Kamis, 17 April 2008

APA ITU ISLAM, IMAN DAN IHSAN

Umar ibnul-Khaththab berkata, “Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba datang seseorang yang sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, dan padanya tidak terlihat bekas perjalanan, juga tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga orang tersebut duduk kepada Nabi saw., dan selanjutnya ia menempelkan kedua lututnya kepada lutut Rasulullah, dan meletakkan kedua telapak tangannya ke kedua paha Rasulullah berikutnya ia berkata, “Muhammad, beritahukan kepadaku apa itu Islam?’ Rasulullah menjawab, Yaitu bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji jika mampu.’ Orang itu berkomentar, ‘Engkau benar.’ Mendengar komentarnya itu kami merasa heran, karena dia bertanya tapi kemudian dia sendiri yang membenarkan jawaban atas pertanyaan itu.

Orang itu bertanya lagi, ‘Beritahukanlah kepadaku apa itu iman?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, Kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, hari akhirat, dan mengimani takdir yang baik dan buruk.’ Ia berkomentar, “Engkau benar.’

Ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku apa itu ihsan?’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu bahwa engkau menyembah Allah dengan cara seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan, jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia melihatmu.’

Ia bertanya lagi, ‘Beritahukan kepadaku tentang hari kiamat?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.’ Ia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!’ Rasulullah menjawab, ‘Yaitu ketika hamba sahaya melahirkan tuannya, dan ketika engkau melihat orang-orang yang biasanya bertelanjang kaki, tidak mempunyai pakaian, miskin dan hanya menggembala domba (kemudian tiba-tiba kaya, dan) berlomba-lomba mempertinggi bangunan rumahnya.’

Setelah itu orang itu pergi. Sementara saya berdiam disitu sebentar. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Umar, apakah engkau tahu siapa yang bertanya tadi?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Beliau bersabda, ‘Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.’

(dikutip dari buku Dr. Aidh al-Qarni, Majelis Orang-orang Saleh, Renungan hadits-hadits pilihan, Pen. Al-Qalam kelompok Gema Insani, cet. Ke-2, Jakarta, hal. 30)

Selasa, 08 April 2008

SURAT PARA RABBI KEPADA SEKJEN HIZBULLAH SAYID HASSAN NASRALLAH

Posted on March 11, 2008 by husainku

Kepada Rakyat Lebanon yang Terhormat
Assalamu Alaikum
Semoga rahmat Yang Mahakuasa bagi kalian semua, keluarga kalian, dan seluruh saudara kami yang mulia di Lebanon.

Kami berbicara kepada kalian sebagai suara Yahudi sejati—umat Yahudi, yang setia kepada ajaran Taurat dari Yang Mahakuasa, di seluruh dunia.
Kurang daripada sebulan yang lalu kami menyampaikan sebuah surat terbuka kepada Dr. Al-Zahar, dan masyarakat Gaza sekaligus seluruh rakyat Palestina.Dalam surat ini, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, kami menyampaikan kepedihan, duka-cita, dan kekecewaan kami dalam kaitan dengan kekejaman yang dilakukan oleh negara “Israel” yang ilegal (berdasarkan atas hukum-hukum Taurat, hukum umat Yahudi).

Kami menyatakan bahwa kami telah menulis kepada Dr. Al-Zahar secara personal untuk menyampaikan belasungkawa dan simpati kami atas kehilangannya. Kami lebih jauh menyatakan bahwa sejujurnya kami menyampaikan belasungkawa kepada setiap keluarga yang menderita kerugian dan kehilangan karena tangan-tangan iblis ini, negara Zionis “Israel”. Apa yang seharusnya kami nyatakan adalah bahwa kami semestinya secara pribadi menulis dan mengunjungi setiap penduduk Gaza dan seluruh bangsa Palestina untuk menyampaikan perasaan hati kami dan seluruh kedukaan kami, yang merasakan penderitaan bangsa yang tidak berdosa ini di tangan sebuah entitas, yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Taurat yang suci dan autoritas kerabbian kami sebagai sepenuhnya terlarang.

Lebih jauh, seluruh rakyat Palestina, kerabat, dan keturunan mereka, yang tersebar di seluruh dunia, harus mendengarkan dan merasakan empati kami, dukungan kami, dan doa kami kepada Yang Mahakuasa bagi mereka. Pada akhirnya, kami menyadari bahwa setiap orang dari bangsa ini telah dipengaruhi secara emosional oleh negara Zionis itu.

Kepada yang terhormat, Sayid Hassan Nasrallah, perasaan kami kepada rakyat Lebanon juga persis sama. Kami telah mendengar anda berbicara baru-baru ini pada pemakaman Tuan Imad Mughniyah dan dalam banyak kesempatan sebelumnya. Maka, kami mengetahui bahwa anda dan organisasi anda sepenuhnya menyadari adanya perbedaan yang tegas antara Zionisme dan Yudaisme, dan terdapat banyak orang Yahudi, apakah mereka yang berada di Palestina atau di seluruh dunia, yang sepenuhnya menentang Zionisme dan negara “Israel”.

Delegasi para rabbi kami telah menjadi tamu di negeri anda yang agung, Lebanon, dan telah dijamu oleh organisasi anda, Hizbullah. Kami di sana dalam rangka menghadiri Konferensi Persekutuan Parlemen Internasional bagi Pembelaan Nasib Palestina.
Penghormatan yang diberikan kepada kami sungguh di luar perkiraan. Pada saat itu, berkat Yang Mahakuasa, kami berkesempatan untuk secara langsung menyaksikan dan mengalami, fakta bahwa bangsa Arab dan umat Muslim, meskipun mengalami penderitaan panjang di tangan Zionisme, ternyata tidak lantas menjadi korban pengaruh jahatnya.
Ke mana pun kami pergi, kami menerima kasih-sayang dan persahabatan. Perhatian kepada kenyamanan kami ke mana pun kami berkunjung di Lebanon adalah prioritas utama dari setiap individu. Saat itulah, kami menyaksikan apa yang mereka derita akibat pendudukan Zionis.

Kami terkejut dan sangat menghargai karena semua yang ditunjukkan kepada kami dari penderitaan-penderitaan itu sama sekali tidak disertai tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada para rabbi kami atau kepada bangsa Yahudi secara keseluruhan.
Bangsa Arab dan umat Muslim jelas masih mengingat bahwa kami tidak memiliki konflik agama dan bahwa kami telah hidup bersama secara harmonis selama ribuan tahun. Banyak dari mereka yang memahami adanya perbedaan antara Zionisme dan Yudaisme.

Izinkan kami menyebutkan tiga contoh pengalaman yang sangat inspiratif, yang kami dapatkan di Lebanon, yang telah meninggalkan kesan mendalam di dalam hati kami.
Kami berkunjung ke pusat penjara Khiam dan menyaksikan betapa kejamnya penyiksaan-penyiksaan yang rakyat Lebanon alami selama bertahun-tahun, dan yang dunia abaikan begitu saja. Kami telah mendengar bahwa Zionis menghancurkan penjara itu pada invasi terakhir mereka atas Lebanon, dengan tujuan menghancurkan ingatan akan penyiksaan-penyiksaan itu.
Kami juga mengunjungi sisa-sisa kamp pengungsi Sabra dan Shatilla; kami berbicara kepada pengungsi Palestina di sana dan menyalakan lilin di Martyrs Square, dimana pembantaian yang terkenal itu terjadi. Di kedua tempat itu, air mata kami menetes atas penderitaan tragis yang terjadi dan bertentangan dengan setiap logika hak asasi manusia.

Kami juga berkesempatan untuk menggelar unjuk rasa terhadap Zionisme dan negara “Israel”, tepat di seberang pendudukan Zionis, di gerbang Fatima, titik yang menghubungkan Lebanon dengan pendudukan Zionis. Tentu saja, sudah banyak saudara kami yang tinggal di dalam pendudukan Zionis yang terus melakukan unjuk rasa terhadap rezim itu dari dalam dan menanggung risiko yang sangat besar. Mereka secara brutal dipukuli dan ditahan.

Kami juga ingin memberi tahu anda dan saudara kami, rakyat Lebanon, bahwa ketika Israel menginvasi Lebanon, masyarakat Yahudi di seluruh dunia turut serta dalam demonstrasi-demonstrasi demi mendukung rakyat Lebanon. Di Kanada, Inggris, dan AS, kami dari komunitas relijius Yahudi menghadirkan rabbi-rabbi yang berbicara pada semua unjuk rasa itu untuk mengekspresikan kecaman dan perlawanan kami kepada serangan kejam dan brutal atas Lebanon. Ini di luar demonstrasi-demonstrasi yang digelar secara mandiri oleh komunitas-komunitas Yahudi secara global.

Kami dengan penuh kerendahan hati memohon kepada yang mulia Sayid Hassan Nasrallah untuk menerima kata-kata kami dan menyampaikan pesan ini kepada rakyat Lebanon dan para pengungsi Palestina di negeri anda.
Izinkan kami mengulangi bahwa kami berbicara kepada anda sebagai suara Yahudi sejati—umat Yahudi yang setia kepada ajaran Taurat dari Yang Mahakuasa, di seluruh penjuru dunia.
Meskipun terbatas dalam menyampaikan perasaan kami yang terdalam, hanya dalam rangkaian kata, kami umat Yahudi dengan kerendahan hati ingin menyampaikan kepada anda, kepada rakyat Lebanon, Gaza, dan seluruh bangsa Palestina, segelintir kata sebagai upaya menyampaikan dukungan, duka-cita yang mendalam, dan simpati bahwa kami semua merasakan apa yang kalian rasakan dalam saat-saat yang paling tragis dan traumatis ini.
Sekali lagi, izinkan kami mengatakan bahwa akan lebih pantas dan layak jika kami secara personal menulis dan berbicara kepada setiap korban dari negara Zionis “Israel”.
Semoga kata-kata yang sederhana dan sedikit ini bisa menjadi pesan yang melipur lara, menjalin persahabatan, dan memberikan dukungan kepada anda, rakyat Lebanon, dan kepada warga
Gaza serta seluruh bangsa Palestina.

Umat Yahudi sejati di seluruh dunia, tentu saja termasuk mereka yang berada di seluruh wilayah Palestina, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, tidak akan pernah menerima ideologi Zionisme dan tidak akan pernah mengakui realisasi dari rencana bid’ahnya, yaitu negara “Israel”.

Ikatan kami yang sesungguhnya adalah kepada Yang Mahakuasa dan Taurat-Nya. Posisi moral kami adalah bahwa kami diperintahkan untuk meniru Yang Mahakuasa, “Jika Yang Mahakuasa adalah Yang Maha Pengasih, maka kami akan menjadi umat yang pengasih.” Kami selalu dan akan selalu, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, untuk tetap memisahkan diri dari kesesatan dan kehendak iblis ini, yakni “Zionisme dan negara Israel”.

Izinkan saya mengingatkan anda, bahwa Yang Mahakuasa secara eksplisit telah memerintahkan kepada kami, umat Yahudi, sejak penghancuran Kuil, sekitar dua ribu tahun silam, untuk bertingkah-laku rendah hati dan setia kepada setiap negeri dimana kami tinggal. Lebih jauh, kami dilarang untuk melakukan pemberontakan terhadap setiap bangsa, kami tidak berupaya untuk mengakhiri periode pengasingan kami. Kami dilarang untuk mendirikan negara atau entitas eksklusif bagi kami sendiri.

Kami berdoa bagi kalian, semoga kita semua bisa menanti hingga hari dimana Yang Mahakuasa akan menunjukkan kejayaan di seluruh dunia.
Pada hari itu, semua umat manusia, akan datang ke Tanah Suci, dalam harmoni dan persaudaraan, demi mengabdi kepada Yang Mahakuasa dalam perdamaian.
Sekitar seratus tahun lalu, Zionis tiba di Palestina dalam rangka merealisasikan mimpi mereka, yakni mentransformasi Yudaisme dari sebuah agama kepada nasionalisme. Dan saat itu dimulailah sebuah sejarah pahit pemberontakan melawan Tuhan, yang pada akhirnya berwujud dalam negara ilegal “Israel”.

Sejak penciptaan negara “Israel”, rakyat Palestina dan rakyat Lebanon terus menanggung derita yang tak terperikan. Mereka ditindas, dipukuli, dibunuhi, dihinakan, dan diusir.
Meskipun, dalam surat ini dan dalam kesempatan ini, tidaklah pantas jika kami mengulas penderitaan pribadi kami di tangan rezim Zionis, kami merasa adalah penting untuk menyampaikan fakta ini kepada masyarakat Arab. Moralitas kita menyatakan bahwa dengan saling berbagi penderitaan, maka manusia bisa meringankan penderitaan itu dalam batas-batas tertentu. Hal ini juga untuk menunjukkan kepada semua orang akan kejujuran dalam perlawanan kami kepada pertumbuhan mengerikan dari negara Yahudi ini—apa yang disebut negara “Israel”.

Dengan demikian, izinkan kami menyatakan bahwa sejak kehadiran para pendosa dan ateis ini, yakni Theodore Herzl dan gangnya yang menyuarakan suara-suara jahat dalam menyebarkan ideologi iblis mereka, bid’ah Zionisme, masyarakat Yahudi juga mengalami penderitaan yang tidak terkira, baik fisik maupun spiritual di tangan-tangan mereka. Saudara-saudara kami yang bertakwa kepada Tuhan di seluruh Palestina terus mengalami pemukulan, pembunuhan, pemenjaraan, dan penindasan sejak munculnya Zionisme hingga hari ini. Mereka juga merupakan korban-korban para pelaku kriminal yang sama yang menindas rakyat Palestina dan Lebanon.

Izinkan kami memberi tahu bahwa para pemimpin, rabbi, dan orang-orang bijak sejati kami di Palestina, Timur Tengah, Eropa, dan di seluruh dunia, secara vokal dan antusias menyuarakan perlawanan total mereka kepada Zionisme dan negara “Israel”, sejak kemunculannya. Mereka meneriakkan dan mengecam seluruh kejahatan yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina dan Lebanon. Mereka meneriakkan penindasan terhadap umat Yahudi yang relijius dan negara Israel secara konstan berupaya menghapus dan menghancurkan segala sesuatu yang Ilahi dan relijius. Mereka tanpa kenal lelah dan takut telah mendemonstrasikan, dalam pengorbanan diri yang besar, penentangan mereka kepada pemberontakan melawan Tuhan ini.

Berbagai fatwa yang tak terhitung banyaknya telah dikeluarkan oleh para pemimpin sejati kami, yang meminta umat Yahudi untuk setia kepada Yang Mahakuasa dan Taurat-Nya, dan untuk memisahkan diri mereka dari negara “Israel” yang ilegal dan penuh dosa serta dari kejahatan-kejahatan yang bersumber darinya.
Puji Tuhan, pesan-pesan mereka telah didengar oleh banyak Yahudi yang bertakwa dan telah ditaati. Lebih jauh, ribuan dari mereka telah berdiri bersama rabbi-rabbi mereka untuk terus mendemonstrasikan tanpa kenal takut, hingga hari ini, di seluruh Palestina yang diduduki dan dunia, perlawanan mereka terhadap negara “Israel”.

Semua itu terdokumentasikan dengan baik, tetapi diabaikan oleh kekuatan-kekuatan media yang dikendalikan Zionis dan karena adanya intimidasi terhadap mereka yang berani mengungkapkan kebenaran.
Satu lagi persoalan yang penting untuk disampaikan, selain adanya banyak perintah di dalam Taurat untuk berbuat kebajikan dan larangan jelas atas Zionisme, kami bersimpati dan sensitif kepada nasib rakyat Palestina dan Lebanon, karena kami umat Yahudi pernah mengalami diskriminasi ekstrim dan penderitaan tragis di kamp-kamp konsentrasi di Eropa. Kerabat-kerabat dekat kami menderita dan terbunuh di sana. Kami juga menyadari dan telah mengalami bagaimana rasanya diusir ketika kami dipaksa meninggalkan dari rumah-rumah kami di seluruh Eropa. Pengalaman inilah yang membentuk pemahaman dan perasaan kami bagi penderitaan rakyat Palestina dan Lebanon.

Hingga kini, bagi pemahaman kami yang manusiawi dan terbatas, tampak bahwa entitas iblis ini, yakni negara “Israel”, tidak akan pernah menyerah dan akan terus menebarkan kejahatannya terhadap manusia-manusia yang tidak berdosa di bawah kendalinya.
Namun demikian, ingatlah dan tenangkanlah diri kalian, wahai saudara-saudara kami di Palestina dan Lebanon, bahwa ada Penguasa Semesta, yang Mahabesar, Maha Pengasih, yang benar-benar mengendalikan dunia ini. Dia mampu dan akan mengakhiri penderitaan ini.
Di dalam Taurat, dinyatakan bahwa perbuatan melawan Yang Mahakuasa tidak akan pernah berhasil. Negara “Israel” ini, menurut Taurat, pada akhirnya niscaya akan berakhir.
Mari kita berdoa dan memohon kepada-Nya, untuk menghadirkan pelucutan total yang segera dan damai dari negara ilegal ini pada zaman kita. Dengan anugerah Yang Mahakuasa, semoga Dia merealisasikan hal ini, tanpa ada penderitaan dan kepedihan lebih lanjut. Amin.
Tolong sampaikan pesan ini kepada setiap saudara sebangsa anda yang menderita di bawah penindasan “Zionisme—Israel”. Terkhusus, tolong sampaikan pesan ini kepada para kerabat dari para korban, yang terluka dan cacat, dan yang mendekam di penjara-penjara Israel.
Sampaikan kepada mereka semua solidaritas kami dan dukungan kami. Kami merasa terhina oleh aksi-aksi yang mengatasnamakan kami. Kami memohon kepada anda untuk menyampaikan pesan ini kepada rakyat di Lebanon dan Palestina, bahwa ada ribuan Yahudi di seluruh dunia dan di Palestina yang berdiri bersama kalian dan yang menentang Zionisme serta negara “Israel”. Mereka berlepas diri dari aksi-aksi kaum Zionis. Kami memohon kepada anda untuk memberikan pencerahan bahwa ketika bangsa dan umat anda bersua dengan orang-orang Yahudi, jangan memandang mereka sebagai musuh-musuh. Kita semua melayani Tuhan yang Esa.

Sekali lagi, kami akan tetap berdoa—berharap dan cemas bagi kalian semua.
Semoga kita bisa segera menjumpai pada masa kita, pelucutan total, segera, dan damai dari negara “Israel”.
Semoga Yang Mahakuasa merealisasikan janji-janji-Nya bahwa semua manusia akan melayani-Nya dalam harmoni dan perdamaian. Amin.

Assalam Alaikum
Kami sungguh berada di pihak kalian,

28 Januari 2008
Rabbi Moshe Dov BeckRabbi Yisroel Dovid WeissAmerika Serikat, Kanada
Rabbi Meir HirshPalestina
Rabbi Ahron CohenInggris Raya
sumber: nkusa.org

sumber: www.husainku.wordpress.com

KABAR DARI NEW YORK

Sejak tragedi 9/11 banyak masyarakat AS memeluk Islam termasuk wanita yahudi Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, ayahnya seorang pengusaha dan aktivis Yahudi. Begitu pula mamanya. Tapi ia lebih memilih Islam.

Siang itu the Islamic Cultural Center of New York agak sepi. Beberapa jamaah shalat zuhur sudah berdatangan, tapi adzan sendiri belum dikumandangkan. Saya masih menanda tangani beberapa berkas perkawinan untuk dikirimkan ke City Hall untuk mendapatkan "marriage certificate" bagi pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan di Islamic Center.
Tiba-tiba telpon saya berdering dan di seberang sana ada suara resesiionis menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang ingin ketemu dengan saya. "Who is she?", Tanya saya. "Probably she wants to know about Islam," jawabnya singkat.
"Let her sit in the conference room," pintaku.

Saya kemudian segera menyelesaikan menandatangani berkas-berkas perkawinan itu, lalu menuju ruang rapat. Di sana sudah menunggu seorang gadis yang masih relative muda berambut pirang. Nampak seperti asli Eropa. Dengan ramah, saya mengucapkan "selamat siang!". "Morning sir!", jawabnya singkat. Rupanya memang belum siang karena jam masih menujukkan pukul 11:53 pagi.

"How are, and what I can do for you?", Tanya saya memulai percakapan siang itu.
"Hi, I am sorry that I am coming without an appointment?", katanya singkat.
"Oh no, not at all! You don't need to take an appointment to come to our mosque," jawab saya.

Dia kemudian seperti menarik napas, memperkenalkan dirirnya "my name is Jordie!". Dia kemudian bercerita panjang. Dia mulai mengatakan bahwa orang tuanya adalah petinggi agama Yahudi di kota New York . "My father is a businessman, and a board member of many Jewish congregation institutions or synagogues" , katanya terus terang.

Ibunya sendiri adalah seorang philanthropist, dan menurutnya menjadi kontributor besar pada acara-acara pengumpulan dana komunitas Yahudi. Juga anggota pada berbagai organisasi sosial dan wanita di kota New York .
"And so, what makes coming here today?", pancingku.
Sekali lagi, dia bercerita panjang. Saya menangkap darinya bahwa dia adalah seorang gadis "brilliant" dan pemberani. "I am a graduate student at the NYU", and also a Jewish activist", katanya.

Dia menceritakan bagaimana kegiatannya di kampus, termasuk kegiatan- kegiatannya dengan kelompok agama lain, termasuk dengan pelajar Muslim. Salah satu yang selalu dia ingat adalah ketika kelompok mahasiswa Yahudi dan Muslim melakukan kerjasama bakti sosial di New Orleans setelah terjadi musibah badai Katherina ketika itu. "I really enjoyed the accompany of my Muslim friends at that time", jelasnya.
"Are U still connected with your Muslim friends?" tanyaku.
"Yes, in fact I learned a lot from them about Islam", jawabnya.
"And so, who direct you to come to the Center?" tanyaku lagi.

Dia kemudian menjelaskan bahwa salah seorang teman kelasnya, sama-sama mengambil sosiology, bernama Katherine. Saya bercanda, asal bukan Katherine temannya "hurricane?" (badai).
Ternyata Katherine adalah seorang Amerika keturunan Spanyol, masih non- Muslim dan saat ini belajar di Islamic Forum for non Muslims. Setelah mereka berdua terlibat perbincangan tentang Islam, dan keduanya banyak merasakan nilai positif dari agama ini, Katherine menganjurkan kepadanya untuk menemui engkau. "She is a big fan of you", candanya.
"Oh no! I am just a regular guy, employed by this Center", kata saya.

Saya kemudian menanyakan beberapa hal tentang agamanya, Yahudi. Setiap kali menyebutkan konsep-konsep ketuhanan, saya menimpali dengan ayat- ayat Al Quran. "Really? That's amazing!", serunya.

Dia belum pernah membayangkan betapa Islam dan Yahudi hampir mirip dalam konsep ketuhanan. Sehingga setiap kali ada poin yang dikemukakan mengenai Tuhan, saya cuma membacakan ayat-ayat dari Al-Quran.
Saya katakan, Al-Quran itu salah satunya berfungsi sebagai "musoddiqan" (untuk menegaskan kitab-kitab suci sebelumnya.
Setelah berputar-putar dengan berbagai konsep ketuhanan, kami kemudian mendikusikan hubungan Ibrahim dengan kedua anaknya. Dalam benak dia, memang Ishak itu memiliki status sebagai Nabi, tapi Ismail tidak diangkat sebagai Nabi Tuhan. Diskusi cukup inten dan hangat, bahkan sesekali terlibat perdebatan yang dalam.

Alhamdulillah, pada akhirnya setelah kita sama-sama merujuk ke Kitab Suci tentang para Nabi, dia mengakui bahwa memang ada sikap "prejudice" (curiga) dan diskriminatif dalam ajaran Yahudi. Bahwa yang mulia dalam konsep Yahudi hanya satu kelompok manusia yang digelari "Israelis" (Israelites). Manusia lain tidak terhormat, dan seharusnya menjadi hamba-hamba Israel .

Tanpa terasa adzan zuhur dikumandangkan. Kami berhenti sejenak. Tapi tiba-tiba Jordie nampak tersenyum dan mengatakan, "Jujur saja, Islam adalah yang benar!", akunya.
"Saya sudah aktif di sinagog semenjak masih kecil, tetapi saya tidak pernah melihat satupun orang berkulit non-putih datang ke sinagog, jelasnya".
"If Judaism is really God's religion, why it has to discriminate people on the basis of races?", tanyanya.

Tanpa terasa, Jordie mempertanyakan berbagai hal mengenai agamnya.
"Jordie, how do you see the Prophets of God?" tanyaku.
"They must be the best people to receive and convey the revelation. Not only to convey, but they themselves lived by the revelation", jelasnya.

Saya kemudian menjelaskan berbagai tuduhan Taurah terhadap Nabi-nabi Allah, termasuk Daud, Sulaeman, dll. Saya katakana, dalam Al-Quran tidak satupun Nabi dikisahkan dengan kisah-kisah yang menyakitkan. Justeru para nabi itu adalah orang-orang yang berjuang untuk meluruskan prilaku manusia. "Is it rational that the Prophet David slept with his neighbor's wife, and plotted to kill him?", tanyaku.
"Of course, not", jawabnya.
"But Sister, it is there in Torah!", jelasku.
Sejenak, nampak Jordie diam, memandang ke saya seperti terheran-heran.
"So, what do you think?", tanyaku.
"Wow, I read those, but never realized that it's so bad!" akunya.
Saya kemudian menjelaskan bahwa memang terkadang kita membaca Kitab Suci kita dan "we take it for granted". Seolah semua sudah diterima begitu saja, dan tidak ada lagi keinginan untuk menyelami dan memahaminya. Selain karena sudah diterima sebagai "keyakinan" dan sudah menjadi "dogma", juga karena keberagamaan kita bersifat turunan.
Jordie terdiam. Tiba-tiba saja dia angkat kepala dan tersenyum "Wow, I really did not realized that I have been trapped in that" (ikut membuta).
"So what do you think about Islam?" saya memancing kembali.
Dengan sedikit pelan dia mengatakan "I think this is the true religion". Kali ini sepertinya dia tidak seagresif sebelumnya.
"Jordie, can I ask you something?" tanyaku.
"We are in the winter. You know what kind of cloth we need. If you have only on you, and in front of you a thick jacket, will you stay frozen or will you take the jacket to cover your self?", tanyaku.
"Of course I must take the jacket", jawabnya singkat.
"I know you have your religion. But your religion does not fit to save you, Jordie. Here Islam, the religion you believe as the true religion is to save you. Would you like to take it?", tanyaku.
Dengan sedikit pelan, nampak agak ragu, tapi kemudian dengan tegas mengatakan "yes".
Alhamdulillah! Tanpa saya sadari saya ucapkan itu. Rupanya Jordie juga sudah tahu betul tradisi itu.

Saya meminta agar Jordie berwudhu. Ditemani oleh seorang jamaah wanita Jordie mengambil wudhu, dan sebelum shalat dimulai (iqamah), Jordie yang nama akhirnya "Rosenbaum" itu saya bimbing mengikrarkan: "Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah."
Pekik takbir para jamaah dilanjutkan dengan iqamah, dan Jordie pun memulai shalatnya yang pertama kali. Allahu Akbar!

New York, Maret 2008

Sumber: maaf, sumbernya lupa.

Tidak Adil Kaitkan Islam dengan Terorisme

Senin, 07 April 2008 12:00:00
PM KAMBOJA: Pers dan Politisi tak Adil Kaitkan Islam dengan Terorisme

Phnom Penh--RoL--Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menilai kebanyakan media massa seperti jaringan televisi berita CNN dan BBC tidak adil mengaitkan Islam dengan terorisme."Sesungguhnya tidak tepat mengaitkan Islam, yang memiliki umat lebih dari satu miliar di seluruh dunia, dengan sejumlah kecil orang melakukan aksi kekerasan," kata PM Hun Sen dalam sambutannya pada pembukaan konferensi internasional mengenai kerjasama antar-iman untuk perdamaian, yang diadakan di ibukota Kamboja, Phnom Penh.Ia mengutarakan ketika terorisme terjadi di suatu tempat, seorang politikus atau media massa akan menghubungkannya dengan umat Muslim secara keseluruhan."Terorisme adalah terorisme. Hal itu tidak bisa dihubungkan dengan agama tertentu," kata PM Hun seperti dikutip televisi Australia, ABC."Oleh karena itu, semua politikus dan media massa hendaknya mengubah sikap mereka dalam menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan Islam," ia menegaskan.Menurut dia, "Kesalahan terbesar telah dibuat oleh sebagian besar jaringan televisi seperti TV AS CNN, TV Inggris BBC dan TV Perancis TV5."Konferensi "Dialog Antar-Iman Kawasan Asia Pasifik" tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 10 negara anggota ASEAN, juga dari Australia, Selandia Baru, dan Papua Nugini.ant/ya

Sumber: www.republika.co.id

FAKTA SEJARAH BAHWA TANDA KENABIAN MUHAMMAD JUSTRU DIAKUI OLEH KALANGAN PENDETA KRISTEN

Masa Kanak-kanak
Pada masa kanak-kanak beliau, diceritakan ketika Muhammad ikut kafilah dagang pamannya Abu Thalib di sepanjang rute Syiria, di suatu tempat bernama Bostra, terdapat sebuah ruang rahib/pendeta yang telah dihuni oleh beberapa generasi pertapa Kristen. Ruan tersebut berisi kitab-kitab suci, tafsir dan ramalan tentang orang-orang suci ini dari penghuni biara itu adalah Bahira. Bahira percaya bahwa saat penghiburan yang diramalkan dalam Injil Santo Yohanes sudah dekat.

Suatu hari, Bahira sedang bermeditasi di Biara itu dan dia melihat debu yang diterbangkan oleh kafilah yang berjalan mendekat. Ketika kafilah makin dekat, dia melihat bahwa sebuah awan terang mengikuti kafilah itu. Dia tidak berpikir apa-apa tentang itu. Debu, panas dan refraksi cahaya bersatu padu untuk menghasilkan pemandangan seperti itu di padang pasir. Hanya ketika kafilah telah berhenti dan mendirikan kemah agak jauh darinya, dia memperhatikan bahwa awan cahaya ini ikut berhenti. Awan tersebut melayang-layang diatas sebuah pohon duri yang cabang-cabangnya menunduk kea rah orang yang sedang duduk di bawahnya. Bahira menjadi tertarik.

Pertapaan itu memiliki banyak simpanan makanan yang selalu diberikan, sebagai hadiah, oleh para jamaah. Bahira memerintahkan agar disiapkan sebuah pesta untuk orang-orang dalam kafilah itu. Kemudian para pedagang Quraisy dari Makkah itu tiba, dan ketika Bahira berdiri untuk menyambut mereka dengan salam tradisional, dia juga memperhatikan dengan cermat wajah setiap tamunya. Tidak ada sesuatu yang aneh. Bahira menyembunyikan kekecewaannya dari tamu-tamunya itu, tapi terus menyelidiki kalau-kalau mereka telah meninggalkan seseorang di belakang. Mereka menjawab bahwa tidak seorang pun yang tertinggal di kemah kecuali seorang anak yang termuda di antara mereka. Ketika mereka berbicara, mereka merasa bersalah karena Muhammad muda tidak ikut dihadirkan sehingga salah satu di antara mereka kembali dan memeluk anak kecil itu dan membawanya untuk bergabung dengan orang-orangnya. Sekilas Bahira mengenali kualitas spiritualitas yang sangat besar dalam diri Muhammad. Sementara mereka makan, Bahira dengan lembut bertanya kepada anak itu tentang keimanannya, kehidupannya, keluarganya, dan ambisinya. Dengan tiap jawaban, Bahira menjadi yakin bahwa anak yatim ini adalah anak yang telah lama ditunggu-tunggu. Ketika Bahira melihat sekilas sebuah tanda aneh di punggung Muhammad, yang ia identifikasi sebagai tanda kenabian yang dulu dimiliki oleh semua Nabi, dia merasa harus segera menyingkap rahasia ini. Sore itu, dia mengajak Abu Thalib menyingkir dan menasehatinya, “Bawalah keponakanmu pulang ke negerinya dan jagalah dia dengan baik-baik dari orang-orang Yahudi, karena demi Allah, jika mereka melihatnya dan menemukan tentang dia apa yang saya ketahui, mereka akan berbuat jahat terhadapnya. Sebuah masa depan yang besar terletak di depan kemenakanmu ini.” Abu Thalib mendengarkan semuanya dan menyimpannya dalam hati.[1]

Dalam buku Karen Armstrong, disebutkan pula cerita yang menyebutkan fakta bahwa Kenabiannya diakui oleh pendeta Nasrani, yaitu cerita yang diawali ketika pamannya Abu Thalib mengajak Muhammad untuk menemaninya dalam sebuah perjalanan dagang ke Syiria. Ketika mereka mencapai Basrah, pendeta setempat Bahira’ keluar dari kediamannya dan mengundang mereka makan. Biasanya Bahira’ mengabaikan rombongan karavan, tetapi tahun ini dia melihat karavan itu dilindungi oleh awan yang cerah, yang menurutnya merupakan tanda hadirnya Nabi yang telah lama ditunggu-tunggu. Karena Muhammad adalah anggota karavan yang termuda, dia ditinggalkan di luar untuk menjaga barang dagangan, sementara orang-orang Quraisy memenuhi undangan Bahira’. Selama jamuan, pendeta mempelajari para saudagar itu dengan seksama namun tak satupun menjawab gambaran tentang sang Nabi yang ditemukannya di buku-bukunya. Apa masih ada orang lain bersama mereka? Orang-orang Quraisy itu tiba-tiba merasa malu karena telah meninggalkan cucu almarhum Abdul Muthalib yang terhormat di luar seperti seorang budak. Maka mereka memanggilnya ke dalam dan pendeta itu mengamatinya dengan lebih seksama. Setelah jamuan, Bahira’ membawa Muhammad ke tepi dan memintanya bersumpah demi al-Lata dan al-Uzza, para dewi rakyatnya. “Jangan suruh aku bersumpah demi al-Lata dan al-Uzza,” Muhammad memprotes, “karena demi Allah, tak ada yang lebih kubenci daripada kedua dewi itu.” Sebaliknya Muhammad bersumpah demi Allah semata dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Bahira’ tentang kehidupannya. Kemudian sang pendeta memeriksa tubuhnya dan menemukan sebuah tanda khusus kenabian di antara tekukan pundaknya. “Bawalah kemenakanmu pulang ke negerimu dan jagalah dia dengan hati-hati terhadap kaum Yahudi,” Bahira’ menasihati Abu Thalib, “karena demi Allah! Jika mereka melihatnya dan tahu tentangnya apa yang kuketahui, mereka akan bertindak jahat padanya, sebuah masa depan yang besar terletak di tangan kemenakanmu ini, maka cepat bawalah dia pulang.”[2]


Masa Wahyu Pertama Turun
Nubuat kenabian pada waktu Muhammad menerima wahyu pertama, ketika berada di Gua Hira yang dikemukakan oleh seorang pendeta Kristen bernama Waraqah bin Naufal. Diceritakan ketika Muhammad menerima wahyu pertama, beliau mengalami schock bahkan sampai minta diselimutkan kepada isterinya. Waraqah bin Naufal lah yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi Allah, setelah mengetahui cerita bagaimana Muhammad menerima wahyu, dan tanda-tanda malaikat yang dilihat oleh Muhammad tersebut. Diceritakan pula dalam buku tersebut bahwa setelah Muhammad pulih, Waraqah bin Naufal menemuinya di Ka’bah dan memperingatkannya tentang apa yang akan segera dia hadapi: “Kau akan dituduh berbohong, kau akan disiksa, dijauhi, diasingkan dan diserang”. Pendeta tersebut kemudian menunduk di depan Nabi dan kemudian mencium keningnya.[3]

Cerita yang sama dapat ditemukan dalam bukunya Haekal, yang menyebutkan tentang Waraqah bin Naufal yaitu seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Bible. Khadijah menceritakan pengalaman Nabi Muhammad pada waktu menerima wahyu di Gua Hira. Waraqah diceritakan menekur sebentar, kemudian berkata: “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah.”[4]

Sesudah itu, pada suatu hari Muhammad pergi ke Ka’bah, di tempat itu Waraqah bin Naufal menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqah berkata, “Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Engkau adalah Nabi atas ummat ini. Engkau telah menerima Namus besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang dipihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula.” Lalu Waraqah mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Muhammad.[5]

[1] Barnaby Rogerson, Biografi Muhammad, Diglossia Media Group, cetakan kelima, 2007, hal 64-66.
[2] Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi, Sebuah Biografi Kritis, Pen. Risalah Gusti, Cet. Ke-2, 2001, hal. 91.
[3] Barnaby Rogerson, hal. 96.
[4] Haekal, Sejarah hidup Muhammad, Pen. Litera Antarnusa, cet. Ke-18, 1995, hal. 83
[5] Ibid.

Senin, 07 April 2008

Film FITNA Ditampilkan: Mushaf Elektronik Malah Habis Di Pasaran, 3 WN Belanda Masuk Islam

Selasa 08 Apr, 07:28 AM
"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali ‘Imran:54)

Sejumlah sumber di Belanda, Ahad menegaskan, perpustakaan Belanda dalam minggu-minggu lalu menyaksikan kunjungan yang luar biasa banyaknya terhadap buku-buku Islam di Amsterdam. Orang-orang Belanda membeli dalam jumlah besar mushaf-mushaf elektronik yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga hampir habis di pasar dalam dua hari yang lalu. Sementara 3 orang menyatakan masuk Islam dalam seminggu ini.Sumber-sumber itu menyambut baik reaksi dingin kalangan komunitas Islam di Belanda, dan sikap bijakasana yang diambil generasi kedua umat Islam yang hidup di negara eropa itu. Hal ini menjadikan kasus yang menimpa mereka pasca ditampilkannya film anti Islam ‘Fitna’ yang dibuat seorang anggota parlemen Belanda bernama Geert Wilders mendapat simpati yang besar dari masyarakat.Surat kabar ‘De Telegraaf’, berbahasa Belanda menampakkan propaganda anti film tersebut yang direpresentasikan melalui workshop dialog, bersama kalangan intelektual dan pers Belanda.

Dialog itu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar al-Qur`an al-Karim sebagai kitab ibadah dan hidayah, serta penjelasan bahwa apa yang dilakukan Geert dalam filmnya itu merupakan sesuatu yang telah keluar jalur.Surat kabar itu itu dalam halaman intinya mempublikasikan poto walikota Amsterdam berdarah Yahudi, That Cohen saat ia menyalami seorang pemilik penerbitan sekaligus tokoh pers Arab Saudi, Isham Mudir setelah berakhirnya konferensi pers oleh komunitas Muslim yang diadakan di masjid al-Ummah, ba’da shalat Jum’at yang lalu. Cohen dikenal sebagai seorang yang memiliki sikap yang objektif terhadap kaum Muslimin.Pemuda Muslim dari generasi kedua di negeri itu juga mengadakan workshop dialog di pinggiran Mir, Amsterdam malam Jum’at untuk mengantisipasi implikasi film yang sempat mereka tonton tayangannya. Di tengah workshop tersebut, salah seorang warga Belanda menyatakan masuk Islam. Dengan begitu, ia menjadi orang Belanda ketiga yang melakukan hal yang sama (masuk Islam-red) sepanjang satu minggu ini. Ini mungkin sebagai reaksi atas sebuah ungkapan di akhir film itu yang berbunyi, ‘Hentikan Islamisasi Eropa.!’Lembaga Para Imam di Belanda mengajak setiap Muslim, kalangan tua maupun muda untuk bersikap cerdas, tenang dan logis serta mengedepankan sikap hikmah dalam melakukan reaksi. Lembaga itu juga memperingatkan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan negatif yang dampak buruknya akan menimpa diri mereka sendiri dan masyarakat secara umum.Dalam keteranganya, lembaga itu mengatakan, reaksi keras apa pun pasti akan menguntungkan musuh-musuh Islam dan sesuai dengan target yang diinginkan Wilders, yaitu menciptakan perseteruan di tengah individu-individu masyarakat.Sementara itu, sejumlah perusahaan Belanda mengancam akan menuntut anggota parlemen Belanda, Geert Wilders bila film anti Islamnya yang dipublikasikan di jaringan internet itu menyebabkan terjadinya boikot perdagangan dari sisi yang lain. Ketua Kamar Dagang Belanda, Bernard Ventes mengatakan, “Saya tidak tahu apakah Wilders sudah merasa cukup kaya atau memiliki asuransi yang baik. Yang jelas, bila kami menghadapi pemboikotan, maka kami akan melihat sejauhmana hal itu dapat menyeret pertanggungjawabannya.”Ia menambahkan, “Boikot dapat merugikan komoditi Belanda dan perusahaan-perusahaan seperti Shell, Philips dan Unilever yang dikenal milik Belanda.”Seperti diketahui, sebelumnya mantan PM Malaysia, Mahathir Muhammad menyerukan pemboikotan terhadap produk-produk Belanda, setelah seruan serupa juga dimuat di sejumlah media massa Yordania.Kepada para wartawan, Mahathir Muhamamd mengatakan, “Bila kita memboikot produk-produk Belanda, maka Belanda terpaksa akan menutup sejumlah perusahaan.” Ia menegaskan, bila 1,3 milyar Muslim di seluruh dunia bersatu dan menyatakan tidak akan membeli produk-produk Belanda tersebut, maka itu akan sangat efektif.Sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura mengecam film Fitna yang berdurasi 17 menit dan ditampilkan di internet tersebut, hari Kamis lalu.

Sumber: www.arrahmah.com

Jumat, 04 April 2008

Agama Sebelum Rasulullah Diutus

Thursday, 14 June 2007

Ayah nabi Muhammad SAW adalah Abdullah, artinya Hamba Allah. Siapakah Allah yang dimaksud ? Bukankan sebelum Nabi diutus, bangsa Arab belum mengenal Islam ? Nabi Muhammad SAW juga berdo'a di Gua Hira'. Berdo'a kepada siapakah beliau ? Apa agama nabi Muhammad SAW sebelum beliau diangkat menjadi Rasul ?

Orang Arab sesungguhnya telah mengenal Allah SWT jauh sebelum kelahiran nabi Muhammad SAW. Sebab Al-Quran sendiri yang menegaskan bahwa musyrikin Arab itu kenal betul bahwa tuhan mereka adalah Allah SWT. Dalam salah satu ayat Al-Quran digambarkan bagaimana pengakuan orang Arab jahiyah terhadap keberadaan Allah SWT.

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS Al-Ankabut: 61)
Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah." Katakanlah, "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya). (QS Al-Ankabut: 23)

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab, "Allah." Katakanlah, "Segala puji bagi Allah"; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS Luqman: 25)
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab, "Allah." Katakanlah, "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah, "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (QS Az-Zumar: 38)

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan mereka," niscaya mereka menjawab, "Allah", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (QS Az-Zukhruf: 87)
Dari lima ayat Al-Quran di atas yang menceritakan keyakinan orang Arab musyrikin jahilyah, kita tahu bahwa mereka ternyata punya keyakinan tentang keberadaan Allah SWT. Bahkan bukan sekedar yakin atas keberadaan-Nya, mereka pun mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi, memberikan rizki, menurunkan hujan, menundukkan matahari dan bulan adalah Allah SWT.

Lalu apa tugas nabi Muhammad SAW jika demikian?
Tugas beliau bukan mengenalkan keberadaan Allah SWT, sebab mereka sudah kenal Allah. Tugas beliau juga bukan untuk menerangkan bahwa Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, sebab mereka sudah tahu. Tugas beliau adalah memastikan bahwa ketika mereka hanya menyembah Allah SWT saja yang Esa, tanpa adanya tuhan-tuhan lainnya yang disembah bersama-Nya. Sehingga motto dakwah beliau adalah: LAA ILAAHA ILLALLAH, yaitu tidak ada tuhan yang patut disembah dengan haq kecuali hanya Allah saja.

Walhasil, agama yang dibawa nabi Muhammad SAW memang mewajibkan penghancuran semua berhala, juga menafikan semua undang-undang, sistem, agama, ideologi dan peraturan yang bersumber dari selain Allah SWT. Seorang tidak dikatakan muslim sebelum dia mengakui tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada hukum selain hukum yang Allah turunkan.
Adapun kenalnya orang Arab jahiliyah terhadap nama Allah SWT, karena dahulu ada nabi Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam di negeri itu. Bahkan mereka masih setia datang berhaji setiap tahun keliling baitullah. Mereka memang menyebut Ka'bah dengan istilah baitullah (rumah Allah). Bedanya, cara manasik haji mereka sudah jauh menyimpang. Misalnya, mereka thawaf keliling ka'bah dengan bersiul dan bertepuk sambil telanjang tanpa busana.
Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (QS. Al-Anfal: 35)

Dalam Gua Hira
Di dalam gua Hira, Rasulullah SAW memang bukan berdoa dalam arti seperti kita sekarang ini. Sebab beliau memang belum mendapatkan penjelasan langsung dari Allah SWT tentang sosok-Nya. Juga belum ada tata aturan dalam cara beribadah dan berdoa kepada-Nya.

Sehingga yang beliau lakukan bukan berdoa, melainkan menyepi untuk melakukan tahannus. Beliau tentu tidak berkomat-kamit mengangkat tangan ke langit. Namun yang berliau lakukan adalah merenung, berpikir, melakukan evaluasi, serta berdialog dengan diri sendiri. Hingga kemudian Allah SWT berkenan berbicara kepada-Nya lewat perantaraan malaikat Jibril 'alaihissalam.

Namun perlu diketahui bahwa beliau sebagai orang Arab pun sudah tahu bahwa Allah SWT adalah tuhannya. Bahwa Allah SWT adalah tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang menurunkan hujan serta memberi rizki.

Kekurangan aqidah bangsa Arab jahiliyah ini bukan pada rububiyah-nya, melainkan pada uluhiyah-nya. Di mana mereka belum punya informasi apa pun tentang bagaimana bertauhid kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada-Nya. Mereka baru sekedar tahu bahwa tuhan itu ada, namanya Allah dan Allah itu menciptakan mereka hingga memberi rizqi.
Kualitas mereka sedikit di bawah para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sudah kenal Allah dan juga mengenal adanya kitab-kitab suci yang turun dari langit yang berisi tata cara ibadah dan juga syariah. Mereka juga mengenal sistem kenabian yang berujud manusia yang mendapatkan wahyu dari langit sebagai hukum yang harus diterapkan.

Namun kesalahan fatal para ahli kitab itu ketika mereka tidak mau mengakui bahwa Allah SWT menjadikan Muhammad SAW sebagai Nabi dan ingkar kepada Al-Quran sebagai kitab suci yang terakhir. Kesalahan ini kemudian diperparah dengan sikap ambivalen mereka terhadap agama Islam. Bahkan pada akhirnya mereka malah memerangi dan hendak membunuh Rasulullah SAW.

Maka semua keyakinan mereka sebelumnya tentang Allah, kitab suci, para nabi dan hukum-hukum syariat yang turun kepada mereka, menjadi tidak ada gunanya lagi. Oleh Al-Quran, para ahli kitab ini diberi status sebagai orang kafir, meski mereka percaya keberadaan Allah, para nabi dan kitab-kitab suci. Hal itu karena mereka tidak mau mengakui Muhammad SAW sebagai nabi dan Al-Quran sebagai kitab suci.
Hanyalah neraka tempat bagi mereka yang tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tuhan dan tidak mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.
Sumber: http://www.eramuslim.com

Kamis, 03 April 2008

Sepenggal tentang Isa

Kisah tentang Yesus menempati posisi yang istimewa di awal Islam. Tidak ada kebutuhan untuk “benturan peradaban” (clash of civilization).
Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus.
Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.Kisah ini boleh jadi akan mengejutkan orang-orang di Barat, yang kadung memandang Islam sebagai musuh yang tidak dapat didamaikan dengan Kristen sejak Perang Salib. Namun, adalah sangat konstruktif untuk mengingat kisah tersebut, terutama selama Natal, ketika kita dikepung oleh gambar-gambar yang serupa tentang Sang Perawan dan Anak Sucinya. Kisah itu mengingatkan kita bahwa apa yang disebut “benturan peradaban” sama sekali bukan tidak bisa dielakkan. Selama berabad-abad, Muslim mencintai figur Yesus yang dihormati di dalam al-Quran sebagai salah satu nabi terbesar dan, di dalam tahun-tahun perkembangan Islam, menjadi salah satu bagian utama dari identitas Muslim. Terdapat pelajaran penting di sini, baik bagi orang Kristen maupun Muslim—terutama barangkali pada saat-saat Natal seperti ini. Al-Quran tidak meyakini Yesus sebagai tuhan tetapi ia mempersembahkan lebih banyak ruang bagi kisah tentang konsepsi dan kelahiran sucinya dibandingkan apa yang dikisahkan Perjanjian Baru. Al-Quran menyajikannya dengan kekayaan simbolis mengenai kelahiran Roh Kudus di dalam setiap manusia (QS. 19:17-29; 21:91).
Seperti para nabi agung lainnya, Maria menerima Roh Kudus dan mengandung Yesus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah bukti (ayat): sebuah pesan perdamaian, kelembutan, dan kasih sayang kepada dunia. Al-Quran dikejutkan oleh klaim-klaim Kristen bahwa Yesus adalah “putra Allah”, dan kemudian dengan bersemangat melukiskan Yesus demi menyangkal ketuhanannya dalam upaya “membersihkan” dirinya dari proyeksi-proyeksi yang tidak layak tersebut. Berkali-kali, al-Quran menekankan bahwa, seperti juga Muhammad sendiri, Yesus adalah seorang manusia biasa yang sempurna dan bahwa orang Kristen sama sekali telah salah dalam memahami teks-teks suci mereka sendiri.
Namun, al-Quran juga mengakui bahwa orang-orang Kristen yang paling setia dan terpelajar—terutama adalah para pendeta dan imam—tidak meyakini ketuhanan Yesus; dari semua hamba Tuhan, merekalah yang paling dekat dengan Muslim (QS. 5:85-86).Harus dikatakan bahwa beberapa orang Kristen mempunyai pemahaman yang sangat sederhana dari apa yang dimaksud dengan penjelmaan. Ketika para penulis Perjanjian Baru, Paulus, Matius, Markus, dan Lukas menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”, mereka tidak memaksudkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka menggunakan istilah itu dalam makna Ibraninya: di dalam Alkitab Ibrani, sebutan tersebut biasa dianugerahkan kepada manusia biasa yang fana, seperti seorang raja, imam, atau nabi—yang telah diberi tugas khusus oleh Allah dan menikmati keakraban yang tidak biasa dengan-Nya. Di seluruh Injilnya, Lukas justru selaras dengan al-Quran, sebab ia secara konsisten menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Bahkan Yohanes, yang memandang Yesus sebagai penjelmaan Firman Allah, membuat suatu pembedaan, sekalipun hanya dalam satu ungkapan yang sangat bagus, antara “Firman” dengan Allah Sendiri—seperti halnya kata-kata kita yang terpisah dari esensi keberadaan kita.Al-Quran menekankan bahwa semua agama yang benar dan terbimbing berasal dari Allah, dan Muslim diwajibkan untuk mengimani wahyu-wahyu dari setiap kata para utusan Allah: Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri” (QS. 3:84). Dan, Yesus—yang juga disebut Mesiah—Sang Firman dan Roh Kudus—mempunyai status khusus.Yesus, bagi al-Quran, mempunyai hubungan yang dekat dengan Muhammad, dan telah meramalkan kedatangannya (QS. 61:6), sama seperti para nabi Ibrani yang dipercaya oleh orang Kristen sebagai telah menubuatkan kedatangan Kristus.
Al-Quran menolak bahwa Yesus telah disalibkan dan memandang kenaikannya ke surga sebagai pernyataan keberhasilan dari misi kenabiannya. Dengan cara yang serupa, Muhammad suatu ketika secara mistik naik ke Singgasana Tuhan. Di samping Muhammad, Yesus juga akan memainkan suatu peran yang sentral dalam drama eskatologis pada hari akhir. Selama tiga abad pertama dari Islam, Muslim telah menjalin hubungan yang dekat dengan orang Kristen di Irak, Syiria, Palestina, dan Mesir, dan mulai mengoleksi ratusan riwayat dan perkataan yang berhubungan dengan Yesus; suatu koleksi yang tidak ada bandingannya di dalam agama non-Kristen manapun. Sebagian ajaran tersebut dengan jelas berasal dari Injil—terutama Khotbah di atas Bukit yang sangat populer tetapi ditampilkan dengan gaya Muslim. Yesus digambarkan melakukan ritual haji, membaca al-Quran, dan melakukan sujud dalam doanya.Dalam riwayat-riwayat yang lain, Yesus mengartikulasikan secara terperinci apa yang menjadi perhatian Muslim. Dia telah menjadi salah satu teladan agung bagi para sufi Muslim, yang mengajarkan hidup sederhana, kerendahan hati, dan kesabaran. Kadang-kadang Yesus memihak satu kelompok dalam sebuah perselisihan teologis atau politis: membariskan dirinya bersama mereka yang mendukung kehendak bebas di dalam perdebatan mengenai takdir; memuji Muslim yang berdamai dengan prinsip politiknya (“Ketika para raja memberikan kebijaksanaan kepada kalian, maka sebaiknya kalian tinggalkan dunia untuk mereka”); atau mengecam para ulama yang melacurkan ajarannya demi keuntungan politis (“Janganlah kamu hidup dari Kitab Tuhan”). Yesus telah diinternalisasi oleh Muslim sebagai teladan dan inspirasi dalam pencarian spiritual mereka. Muslim Syiah merasa bahwa ada suatu koneksi kuat antara Yesus dengan imam-imam mereka yang menerima ilham, memiliki kelahiran-kelahiran yang ajaib, dan mewarisi pengetahuan propetik dari ibu-ibu mereka. Para Sufi terutama mengabdikan diri mereka kepada Yesus dan menyebutnya sebagai “nabi cinta”. Mistikus ternama Abad ke-12 M, Ibn al-Arabi, menyebut Yesus sebagai “penutup orang-orang kudus”—secara sengaja disandingkan dengan Muhammad sebagai “penutup para nabi”.Cinta Muslim kepada Yesus adalah contoh yang luar biasa dari cara bagaimana sebuah tradisi dapat diperkaya oleh tradisi yang lain. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Kristen harus membayar pujian tersebut. Sementara Muslim mengoleksi riwayat-riwayat mereka mengenai Yesus, sarjana-sarjana Kristen di Eropa justru menghujat Muhammad sebagai seorang pemuja seks dan penipu ulung, yang sangat menyukai kekerasan. Namun, pada hari ini, baik Muslim maupun orang Kristen sama bersalahnya atas sikap fanatik semacam itu dan seringkali juga lebih suka untuk melihat hanya bagian terburuk dari satu sama lain. Cinta Muslim kepada Yesus menunjukkan bahwa hal itu tidak harus selalu menjadi situasinya. Pada masa lalu, sebelum terjadinya kekacauan politik dari modernitas, Islam selalu mampu melakukan koreksi diri. Tahun ini, pada hari kelahiran Jesus, mereka mungkin dapat bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka dapat menghidupkan kembali tradisi panjang mereka berkaitan dengan pluralisme dan penghargaan kepada agama-agama yang lain. Ketika merenungi empati Muslim terhadap iman mereka, orang-orang Kristen sebaiknya melihat kembali masa lampau mereka sendiri dan mempertimbangkan apa yang mungkin dapat mereka lakukan untuk membalas rasa hormat ini.[Karen Armstrong, penulis buku Muhammad: a Prophet for Our Time.]* Naskah ini diterjemahkan oleh Irman Abdurrahman dari artikel di harian Inggris the Guardian edisi 23 Desember 2006.Dua riwayat tersebut dan riwayat-riwayat yang bermakna serupa dapat ditemukan dalam Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Harvard University Press, Cambridge, 2001.Source: http://husainku.wordpress.com/2007/12/26/nabi-muslim-lahir-di-bethlehem/

Paradoks Wacana “Terorisme” dan “Fundamentalisme”

Tepat dua tahun sesudah peristiwa 11 September, harian terkemuka Timur Tengah, Al-Syarqul Awsath, menulis bahwa bukan saja belum mampu mengatasi aksi terorisme, Amerika Serikat (AS) bahkan banyak menimbulkan masalah baru karena konsep terorisme melebar ke mana-mana. Harian itu mengingatkan agar AS mendengar usul dunia Arab untuk menyepakati terlebih dahulu definisi dan maksud dari terorisme. "Mendefinisikan terorisme merupakan satu cara untuk keluar dari perang jangka panjang yang melelahkan. Kita berharap agar kejadian di Irak menyadarkan kelompok konservatif di Washington," demikian laporan harian terbesar Arab itu.

Sejak AS melancarkan apa yang disebut "perang melawan teror", banyak pemimpin negara berpikir serius tentang hal itu agar jangan sampai tidak mendapat restu dari AS. Maka, demi mempertahankan kekuasaan atau kemaslahatan tertentu, berbagai paradoks akibat konsep "terorisme" terpaksa dibiarkan terjadi. Lihatlah, bagaimana negara Pakistan dapat melakukan tindakan yang kontradiktif terhadap Taliban. Pakistanlah yang mendukung dan turut membesarkan Taliban. Tetapi, mereka juga yang kemudian memburu Taliban, mengikuti jejak AS. Simaklah berbagai paradoks seputar wacana "terorisme" dan "fundamentalisme" berikut ini.

Direktur Institute for Popular Democracy di Filipina, Nakamura, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kehadiran tentara AS di Filipina. Secara resmi, kata Nakamura, kehadiran tentara AS adalah untuk membantu penumpasan teroris Abu Sayyaf. Tetapi, yang ia baca dari satu situs internet, setelah menumpas "gang kriminal" Abu Sayyaf, tentara AS akan diarahkan untuk memberantas "teroris MILF", lalu "teroris MNLF", dan seterusnya. Jika itu yang terjadi, maka yang berlaku adalah perang total, karena MILF dan MNLF merupakan kelompok politik dan militer dengan puluhan ribu pasukan, dan dukungan luas di dunia Islam. (Siaran Radio BBC, Kamis, 31 Januari 2002 pukul 05.000 WIB).

Dunia internasional mengecam sikap AS yang terlalu menyudutkan Palestina dan menganakemaskan Israel. AS menyebut pasukan pengamanan Arafat sebagai "teroris" dan berencana menutup perwakilan Palestina di Washington, DC. "Saya kira diskusi yang menyamakan Arafat dengan teroris ini tidak pantas dan tolol. Ini adalah kebijakan yang berbahaya," kata Menlu Swedia Anna Lindh. Ia menambahkan, "Ini benar-benar tidak waras. Hal ini bertentangan dengan prosesperdamaian menyeluruh ... dan bisa mengarah kepada perang terbuka di Timur Tengah." (Harian Kompas, 29 Januari 2002).

Profesor linguistik di MIT, Noam Chomsky, menulis berita yang menyimpulkan, "Pengeboman atas Afghanistan (oleh pasukan sekutu yang dipimpin AS) adalah kejahatan yang lebih besar daripada teror 11 September." Pendekatan Barat terhadap konflik Afghanistan adalah pendekatan yang didasari pandangan cupet dan sangat berbahaya. "AS adalah terdakwa negara teroris," tegas Chomsky. (Koran Tempo 12November 2001).

Pada 16 Januari 2002, Human Rights Watch yang berkedudukan di New York meluncurkan laporan pelanggaran-pelanggaran HAM sepanjang tahun 2001. Dalam laporannya bertajuk Human Rights Report 2002, organisasi itu menyimpulkan bahwa AS dan pemerintah George Walker Bush sebagai pelanggar HAM terbanyak di dunia. Lembaga ini juga mengecam keras tindakan Bush dan Jaksa Agung AS John Ashcroft, dalam kasus penangkapan lebih dari 1.100 warga Muslim atau Arab yang ditahan dalam upaya investigasimencari pelakuaksi serangan 11 September 2001 ke WTC.

Guru besar Universitas Penslyvania, Edward S. Herman, dalam bukunya The Real Terror Network (1982) mengungkap fakta-fakta keganjilan kebijakan antiterorisme AS. Selama ini AS merupakanpendukung rezim-rezim "teroris" Garcia di Guatemala, Pinoshet di Chili, dan rezim Apartheid di Afrika Selatan. Pada tahun 1970-an AS memasukkan PLO, Red Brigades, Cuba, Lybia sebagai teroris, tetapi rezim Afrika Selatan dan sekutu-sekutu AS di Amerika Latin tidak masuk dalam daftar teroris. Padahal, pada 4 Mei 1978 tentara Afrika Selatan membunuh lebih dari 600 orang warga di kamp pengungsi Kassinga, Namibia. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Tentara Afrika Selatan juga terbukti membunuh ratusan penduduk sipil Angola. Israel, negara sekutu utama AS di Timur Tengah dan tokoh-tokohnya, juga melakukan berbagai aksi terorisme.

Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, dalam tayangan Panorama BBC, 17 Juni 2001, oleh Jaksa PBB Richard Goldstone, dinyatakan harus diadili sebagai penjahat perang, karena terbukti bertanggung jawab atas pembantaian ribuan pengungsi Palestina di Shabra-Satila, 1982. Sejarah pendirian dan perjalanan negara Israel dipenuhi dengan rangkaian teror demi teror terhadap warga Palestina. Dalam sebuah wawancara dengan koran Yediot Aharonot, 26 Mei 1974, Ariel Sharon menyatakan, "Kita harus selalu menyerang, menyerang, tanpa berhenti. Kita harus menyerang mereka di mana pun adanya. Di dalam negeri, di negeri Arab, dan bahkan di seberang lautan sekalipun. Semuanya pasti akan dapat dilakukan." (Roger Geraudy, Israel dan Praktik-Praktik Zionisme [Bandung: Pustaka, 1988], hlm. 148-162).

Pandangan politik seperti Sharon inilah yang didukung penuh oleh pemerintahan AS, bukan saja secara politis, tetapi juga secara keuangan dan militer. Itulah tindakan "Sang Kaisar" di sebuah dunia yang dikatakan sebagai "unbalanced world". Posisi dan tindakan AS itu mengingatkan kisah legenda tentang "Kaisar" dan "Bajak Laut" yang dengan manis dimetaforkan oleh Noam Chomsky. Chomsky menyebut AS dan Israel sebagai "dua negara yang dipimpin oleh dua komandan teroris dunia". "Sang Kaisar" yang mengacau samudera, dengan kapal raksasa, membunuhi jutaan orang dan melakukan kekejaman di mana-mana. Sementara,"Bajak Laut" yang melakukan "kekerasan kecil-kecilan" sudah dicap sebagai "teroris", yang wajib diperangi dan dimusnahkan. Orang-orang yang mau menjadi "hamba Sang Kaisar" juga diberi kedudukan dan anugerah mulia, atau disebut mendapat "carrot". Sebaliknya, orang-orang yang pernah atau punya hubungan dengan "sang bajak laut" diberikan "hukuman" yang disebit "stick". Maka, ketika berpidato di Kongres AS, 20 September 2001, Presiden Bush memberikan ultimatum, "Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: apakah Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa mana pun yang masih menampung atau mendukung terorisme akan diperlakukan oleh AS sebagai rezim musuh." (Tentang metafor 'Kaisar' dan 'Bajak Laut' dapat dilihat dalam buku Noam Chomsky, Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris? [Bandung:Mizan, 2001]).

Dengan posisinya sebagai "Kaisar", maka AS berleluasa menerapkan berbagai kebijakan untuk membuat "hitam" dan "putih" dunia internasional. Pada 31 Januari 2002, koran-koran di Indonesia kembali memuat pernyataan George W. Bush bahwa AS akan terus memburu teroris, dan memperingatkan negara-negara yang masih ragu-ragu untuk memerangi terorisme. "Jika mereka tidak bertindak, Amerika akan bertindak," kata Bush. Dalam perang melawan terorisme, tidak ada wilayah abu-abu (grey area), yang ada adalah "hitam-putih". Mengutip Newsweek, Koran Tempo (31 Januari 2002) memberitakan bahwa Indonesia termasuk yang dinilai tidak bersikap tegas. Sikap Indonesia ini berubah total setelah peristiwa Bom Bali, 12 Oktober 2002. Bush juga menegaskan lagi bahwa Iran, Korea Utara, dan Irak sebagai "Poros Setan".

Mengapa pemerintah Bush kini begitu bersemangat meluaskan perang ke berbagai penjuru dunia, khususnya ke berbagai pihak yang disebut sebagai "Islam militan"? Jawaban atas pernyataan itu dijelaskan oleh Michele Steinberg, yang pada 26 Oktober 2001 menulis analisis berjudul 'Wolfowitz Cabal' is an Enemy Within U.S. di jurnal Executive Intelligence Review.

Tulisan Steinberg itu dimulai dengan cerita tentang keterlibatan Irak dalam serangan 11 September 2001, seperti dimuat dalam harian The Observer, London edisi 14 Oktober 2001. Berita yang diberi judul "Irak Behind U.S. Anthrax Outbreaks" itu ternyata salah total. Berita salah itu mengutip sumbernya dari pernyataan tanpa bukti dari kalangan "American Hawks" (sebutan bagi pejabat-pejabat AS yang bersemangat dalam melancarkan perang) yang menyatakan bahwa "ada banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan Presiden Irak Saddam Hussein dalam peristiwa aksi pembajakan 11 September 2001. Salah seorang "hawk" menyatakan bahwa jika perang melawan teror ini kita harus berperang ratusan tahun lamanya, maka kita akan melakukannya.

Siapakah kelompok maniak perang di AS tersebut? Itulah yang disebut Steinberg sebagai "Wolfowitz cabal" atau komplotan rahasia Wolfowitz (mantan Dubes AS untuk Indonesia yang kini menjabat Deputi Menteri Pertahanan AS). Komplotan rahasia itu menginginkan agar segera dilakukan perang terhadap Irak, menyusul serangan AS ke Afghanistan. Perang itulah yang mereka harapkan akan menyeret AS ke kancah perang global yang mereka inginkan. Steinberg mencatat: "Tetapi, Irak sebenarnya hanya batu lompatan lain guna mendorong 'perang' anti-taroris menjadi ledakan besar 'benturan peradaban' (clash of civilizations), di mana kawasan Islam akan menjadi simbol musuh dalam sebuah Perang Dingin Baru."

Teori "Clash of Civilizations", menurut Steinberg, adalah teori yang dikembangkan oleh Profesor Havard University yang menjadi penasihat keamanan Presiden Carter, yaitu Zbigniew Brzezinsky dan sejumlah anak didiknya, termasuk Samuel P. Huntington. Brzezinsky bermaksud menggunakan "kartu Islam" untuk melawan Unisoviet, dan setelah itu memosisikan Islam fundamentalis untuk berhadapan dengan Islam yang pro-Barat, Islam moderat, dan pemerintahan Arab. Analisis ini juga menyebutkan bahwa komplotan rahasia Wolfowitz yang mempromosikan teori "Clash of Civilizations" juga merupakan musuh dalam selimut bagi AS. Komplotan ini memiliki jaringan di Dephan, Deplu, Gedung Putih, dan Dewan Pertahanan Nasional AS. Mereka mampu membajak kebijakan AS dan dapat menyeret kekacauan di Afghanistan (dan Irak, red.) saat ini ke dalam satu perang global. Menurut Steinberg, "cabal"mampu merancang operasi "negara dalam negara", sebagaimanapernah terjadi dalam kasus"Iran-Contra". Apalagi, "cabal" menempatkan tokoh-tokoh penting dalam jajaran pengambilan kebijakan pertahanan AS, seperti Ketua Badan Kebijakan Pertahanan (Defence Policy Board), Richard Perle.

Meskipun tidak disertai dengan referensi yang mendalam, tetapi analisis Steinberg cukup menarik. Karena, fakta-fakta kemudian banyak yang sejalan dengan analisis tersebut. Analisis ini juga sejalan dengan berbagai analisis tentang kelompok "neo-konservatif" di AS (yang telah dibahas pada bagian sebelumnya). Pengaruh dan cengkeraman kelompok sayapkanan di AS banyak sekali diungkap. Penempatan kelompok "militan Islam" sebagaimusuh utama Barat juga diberikan legitimasi ilmiah oleh Huntington dan Lewis, dengan mengeksploitasi doktrin clash of civilization. Kebijakan ini kemudian dijadikan sebagai konsep global yang harus diterapkan oleh seluruh negara di dunia. Sama halnya ketika dunia harus menjadikan komunisme sebagai musuh bersama. Sebagai contoh, adalah pernyataan berkali-kali tokoh overseas chinese, Lee Kuan Yew, yang menekankan bahwa Indonesia adalah sarang Islam militan. Menurut Lee, seperti dikutip Koran Tempo, 2Juni 2002 dan Media Indonesia, 3 Juni 2002, Muslim militan di Asia Tenggara sedang berkomplot untuk menggulingkan pemerintah; ia juga mendesak AS agar membantu militer Indonesia, karena hanya militer yang dapat menumpas Muslim militan.

Di lapangan, pengertian "teroris", "militan", dan "fundamentalis" tidaklah jelas dan sangat bias, tergantung kepentingan. Jika "militan Islam", fundamentalis Islam" dan "radikal Islam" merupakan musuh Barat yang paling utama saat ini, sehingga dikatakan Fukuyama di majalah Newsweek, Special
Davos Edition, Desember 2001-Februari 2002, mereka harus diperangi, maka tentunya perlu didefinisikan terlebih dahulu, siapakah yang disebut sebagai "militan", "fundamentalis", atau "radikal" itu? Dan, apakah dunia bisa secara fair dan adil menerapkan definisi itu untuk semua jenis manusia, bangsa, dan negara? Lagi-lagi masalahnya adalah soal standar.

Majalah Time edisi 30 September 2002 menurunkan satu tulisan berjudul, "Taking the Hard Road". Tulisan itu dibuka denan kata-kata yang sangat memojokkan posisi Indonesia, "Indonesia menghadapi pilihan sulit: menggulung kaum ekstrimis dan risikonya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam atau mengundang kemarahan Amerika". Kata majalah ini pula, "Kegagalan Indonesia dalam bertindak atas Jamaah Islamiyah (JI) atau Ba'asyir, menurut para pejabat AS, dapat mempercepat serangkaian sanksi ekonomi, seperti pembatalan pinjaman dan voting yang menolak bantuan dari IMF."

Terlepas dari berbagai masalah hukum yang kemudian diterapkan kepada Baasyir, bagi kaum Muslimin secara luas, muncul pertanyaan: adilkah perlakuan dunia internasional, khususnya AS terhadap Baasyir dan kawan-kawan, jika dibandingkan dengan perlakuan mereka terhadap Ariel Sharon, misalnya? Tokoh Yahudi "sekuler kanan' dari Partai Likud ini juga sudah sangat tersohor berbagai aktivitas terornya. Track-record Sharon dalam soal pembantaian terhadap warga Palestina sulit dilupakan. Tahun 1953, saat memimpin Unit 101, yang dibentuk untuk melakukan pembasmian di Tepi Barat, Sharon melakukan pembantaian di Desa Kibya dan membunuh 69 warga Palestina--setengahnya wanita dan anak-anak. Yang paling dramatis tentu saja saat menjabat Menhan Israel, tahun 1982, Sharon membiarkan terjadinya pembantaian terhadap ratusan--ada yang menyebut angka 2000-3000 jiwa--pengungsi Palestina oleh pasukan Kristen Phalangis. Sharon hanyalah bagian kecil dari apa yang disebut oleh Roger Garaudy sebagai kebijakan negara Israel yang secara sistematis menerapkan metode "terorisme negara". Namun, kejahatan-kejahatan Sharon dan Israel justru terus dibela oleh AS.

Media massa juga menjadi bagian penting dari penyebaran kerancuan terminologi dan definisi tentang terorisme dalam kaitannya dengan Islam. Sebagai contoh adalah pemberitaan media massa di Indonesia tentang "kelompok Abu Sayyaf". Harian Kompas menggunakan istilah yang beragam untuk Abu Sayyaf. Yaitu: (1) "kaum militan" (seperti ditulis dalam tajuknya, 20 Juni 2002), (2) "kelompok gerilya Muslim" (seperti ditulis dalam berita Kompas, 19Juni 2002, (3) "gerilyawan separatis" (ditulis dalam tajuk Kompas). Harian Media Indonesia, 19 Juni 2002 menggunakan istilah "kelompok pemberontak" untuk Abu Sayyaf. Koran Tempo (19Juni 2002) menggunakan istilah "gang penculik". Sementara, pada edisi esoknya, Koran Tempo tidak menggunakan sebutan apapun, dan hanya menyebut kelompok ini sebagai "kelompok Abu Sayyaf". Adapun Republika, 20 Juni 2002, menggunakan sebutan "kelompok gerilya Abu Sayyaf".

Istilah "militan" dan "gerilya Muslim" yang digunakan Kompas terhadap kelompok Abu Sayyaf, yang telah dicap sebagai "penculik,"perampok", "pemberontak", "separatis", sadar atau tidak berkaitan dengan pembentukan citra Islam. Mengapa? Karena, pada saat yang sama Kompas tidak menyebut "terorisme Yahudi" pada Israel dan "pembantai Kristen" pada tokoh-tokoh Kristen yang terjadi di Serbia,atau Timothy McVeigh yang mengebom gedung WTC di Oklahoma City tahun 1996. Meskipun tercatat sebagai Kristen fundamentalis, apakah Presiden Truman yang mendukung Israel juga dapat dikatakan sebagai teroris?

Dalam Perang Teluk, 1991, Angkatan Udara AS menjatuhkan 88.000 ton bom di Irak, jumlah yang setara dengan tujuh kali lipat yang dijatuhkan di Hiroshima. Media Barat dan koran-koran di Indonesia tidak memberitakan peristiwa Pengadilan Kejahatan Perang Amerika (Tribunal for American War Crimes) di New York, yang dihadiri 22 hakim dari 18 negara bagian. Keputusan pengadilan itu menetapkan: AS dan para pejabat terasnya dinyatakan bersalah atas 19 tuduhan kejahatan perang. (Willem Oltmans, Di Balik Keterlibatan CIA [Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001], hlm. 4).

Dengan keputusan pengadilan itu, mengapa George Bush senior tidak dijuluki oleh media massa sebagai "militan Kristen"? Jika Osama yang dicurigai sebagai otak penghancur gedung WTC sudah dicap sebagai "militan" dan "teroris", begitu juga Abu Sayyaf yang Muslim dicap sebagai "militan", "teroris", dan "gerilya Muslim", mengapa Ariel Sharon yang jelas-jelas bertanggung jawab terhadap pembantaian Shabra-Shatila tidak disebut sebagai "militan dan teroris Yahudi"? Mengapa banyak media massa tidak memberikan sebutan semacam itu?
Pada edisi 20 Juni 2002, Kompas menurunkan berita tentang Israel berjudul, "Israel Kembali Duduki Jenin dan Kalkiliya". Kompas tidak memberikan sebutan apa pun untuk Israel dan Ariel Sharon, misalnya Israel diberi julukan sebagai "negara penjajah Yahudi" atau "teroris Yahudi". Padahal, Israel sendiri tak segan-segan menyebut dirinya sebagai "The Jewish State". Ariel Sharon juga hanya ditulis Kompas sebagai "PM Ariel Sharon" tanpa embel-embel "teroris", "penjagal", "tokoh garis keras", atau "militan" Yahudi.

Kerancuan penggunaan istilah-istilah tersebut juga bisa dilihat sebagaimana yang disebutkan oleh tokoh-tokoh di Indonesia. Dalam disertasinya di Universiti Sains Malaysia (USM) yang diterbitkan Paramadina (1999), dengan judul Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam--Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Parta Jama'at-i-Islami (Pakistan)--Yusril Ihza Mahendra menyimpulkan bahwa Jama'at-i-Islami dan Al-Ikhwan al-Muslimun termasuk kategori kelompok fundamentalis. Sedangkan Masyumi masuk kelompok modernis bersama Liga Muslim Pakistan. Dalam "Catatan Pinggirnya" di majalah Tempo , 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup tulisannya dengan kalimat,"Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan." Lalu, pada pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 21 Oktober 1992, Nurcholish Madjid mengatakan, "Kultus dan fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan narkotika."

Jika digabungkan kesimpulan Yusril Ihza Mahendra, Goenawan Muhammad, dan Nurcholish Madjid, yang sama-sama menggunakan istilah"fundamentalisme", maka bisa ditarik kesimpulan bahwa tokoh-tokoh Islam, seperti Hasanal-Banna, Sayyid Quthub, Yusuf al-Qaradhawi, Abul A'la Maududi, Syaikh Ahmad Yasin, dan sebagainya pantas dicap "sama bahayanya dengan narkotika" dan "menakutkan". Itulah yang dilakukan Israel, dengan membunuh Syaikh Ahmad Yasin. Jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki kaitan dengan perjuangan Ikhwanul Muslimin juga dimasukkan dalam kategori "fundamentalisme", maka dengan logika yang sama, Dr. Hidayat Nurwahid yang memimpin MPR juga perlu dimusnahkan, karena dia lebih berbahaya dari narkoba.

Mengaitkan faktor 'kekerasan' dengan 'fundamentalisme agama' juga tidak selalu tepat. Rezim-rezim biadab diberbagai belahan bumi, seperti Rezim Reza Pahlevi, Marcos, Apartheid Afrika Selatan, Augusto Pinochet, dan sebagainya bukanlah pengikut "fundamentalisme". Mereka adalah rezim sekuler. Rezim di Israel yang kejam juga bukan pengikut Yahudi fundamentalis atau Yahudi Ortodoks, melainkan rezim yang lahir dan tumbuh dari kalangan Yahudi sekuler. Presiden George W. Bush yang tega membunuhi anak-anak dan warga sipil Afghan, Irak, Palestina, dan sebagainya juga tidak secara tegas menyatakan diri sebagai fundamentalis Kristen, meskipun pada kenyataannya ia berasal dari kalangan fundamentalis Kristen. Memang, dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, Huntington mengungkap hasil polling di AS, November 1994, yang mengungkapkan, 33% publik AS melihat "Islam fundamentalis" sebagai ancaman. Di kalangan pimpinan AS jumlahnya malah 39%. Dalam polling lain yang melibatkan 35.000 responden yang peduli pada kebijakan politik luar negeri AS, 61% responden menyatakan, "Islamic revival" sebagai ancaman bagi AS. (Huntington, The Clash of Civilizations, hlm. 215).

Di AS, kelompok Kristen fundamentalis diistilahkan sebagai New Christian Right (NCR), juga berpengaruh besar dalam pemerintah AS. Presiden Bush dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kalangan Kristen fundamentalis, seperti Billy Graham, Pat Robertson, Jerry Falwell. Tokoh-tokoh Kristen inilah yang memberikan dukungan kuat kepada Israel. Soal keterkaitan erat Bush dengan kaum fundamentalis Kristen banyak diungkap oleh pengamat politik AS. Dalam bukunya berjudul The Eagle's Shadow: Why America Fascinates and Infuriates the World, Mark Hertsgaard mencatat tentang Bush junior ini: "George W. Bush, yang menyebut Yesus Kristus sebagai filosof favoritnya, adalah seorang Kristen yang "terlahir kembali" yang punya utang politik terhadap kaum Kristen fundamentalis."

Menurut Hertsgaard, sejak awal 2000, kelompok Kristen sayap kanan (Christian right) ini memang telah memilih berdiri di belakang Bush. Presiden AS ini pun kemudian membuat politik balas budi terhadap kelompok yang memiliki basis kuat, terutama di AS bagian Selatan. Di antaranya dengan menggeser tanggung jawab sosial dari pemerintah kepada gereja dan mengangkat hakim serta pejabat-pejabat federal yang bersimpati terhadap kepentingan fundamentalis. Kekuatan Kristen sayap kanan bisa dilihat saat "the two most powerful Republicans" Trent Lott dan Tom Delay berhasil menggerakkan proses impeachment terhadap Clinton dalam kasus skandal seksnya dengan Monica Lewinsky. Di jajaran Republikan, hanya sedikit senator yang dapat terpilih tanpa dukungan kelompok Kristen sayap kanan ini. Memang, dalam soal agama, AS sering bersifat ambigu. Pada satu sisi tetap memegang prinsip sekuler, bahwa negara tidak melakukan campur tangan dalam urusan agama. Tetapi, kata Hertsgaard, "Agama merupakan kunci guna memahami banyak hal tentang AS." Maka, tak heran, jika politisi Demokrat pun sering menampilkan diri sebagai sosok yang religius. Clinton dan Algore, misalnya, juga bangga menyatakan dirinya sebagai "born again" Baptists. Clinton juga melakukan ritualitas Kristen saat melakukan pengakuan dan permohonan maaf kepada rakyat AS atas skandalnya dengan Lewinsky. (Mark Hertsgaard, The Eagle's Shadow: Why America Fascinates and Infuriates the World [Crows Nest: Allen and Undwin, 2002], hlm. 121-123).

Kristen fundamentalis alias Kristen sayap kanan (NCR) mulai dikenal pada akhir 1970-an. Ketika itu masyarakat AS menyaksikan kebangkitan munculnya kelompok ini, yang dalam politik AS dikenal sebagai "gerakan politik keagamaan konservatif (a conservative religio-political movement)". Gerakan yang berakar pada "American evangelical Protestantism" ini bertujuan untuk mendirikan agama Kristen tradisional sebagai kekuatan dominan dalam seluruh aspek sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Pesan dari NCR adalah menyerukan kebangkitan agama, regenerasi moral, dan kebangkitan kembali bangsa Amerika. Seorang tokoh NCR, Jerry Falwell, menyatakan bahwa Amerika membutuhkan dampak dari kebangkitan spiritual murni, yang dibimbing oleh pendeta-pendeta yang percaya pada Bible; bahwa 'kanker moral' telah menyebabkan pembusukan masyarakat dari dalam. (Peter Beyer, Religion and Globalization [London: SAGE Publications, 1994], hlm. 114-122).

Karena menyimpan banyak masalah, Mark Jurgensmayer menolak menggunakan istilah "fundamentalis" kepada kaum Muslim yang menginginkan kebangkitan nasional religius. Ia menulis bukunya dengan judul: The New Cold War? Religious Nationalism Confronts the Secular State. Menurutnya, istilah "fundamentalis" bernada peyoratif (penghinaan), yang berkonotasi "intoleran", "merasa benar sendiri", dan "menerapkan pandangan sempit dogma agama secaraliteral". Istilah ini lebih merupakan tuduhan ketimbang bersifat deskriptif. Artinya, lebih mencerminkan sikap terhadap kelompok lain ketimbang menjelaskan siapa mereka. Karena itu, menurut Jurgensmayer, lebih tepat memberi identitas para aktivis yang berorientasi keagamaan secara pribadi dan politik sebagai "nasionalis religius", sebagailawan dari "nasionalis sekuler". (Mark Jurgensmeyer, The New Cold War? hlm. 406). Pada tataran praktis, perbedaan perlakuan terhadap "fundamentalis" Yahudi, Kristen, atau Islam, dalam kamus terorisme internasional saat ini, menunjukkan istilah "terorisme" masih begitu lekat dengan kepentingan politik--baik dalam maupun luar negeri--AS yang kemudian menjadi pangkal berbagai problemapelik internasional.

Problema pelik internasional itu ternyata dalam pandangan Bush bisa menjadi sangat sederhana. Bush membagi dunia menjadi dua: dunia jahat dan dunia baik. Dunia jahat, menurut Bush (red.), adalah musuh AS, dan dunia baik adalah yang mendukungnya. Siapa pun bisa melihat ketidakberesan sikap politik "siapa yang kuat dia yang benar" ini. Penguasa AS yang bersikaplain akan tersingkir atau disingkirkan, seperti yang terjadi pada John F. Kennedy. Dalam bahasa Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, dunia kini kembali ke "zaman batu", karena menempatkan "perang" sebagai jalan menyelesaikan masalah. Hukum dan aturan internasional yang disusun sendiri oleh AS dan sekutu-sekutu pemenang Perang Dunia II kini justru diinjak-injaknya sendiri. Inilah sebenarnya akhir tatanan internasional (pax-Americana). Inilah akhir dari aliran politik idealis yang mengagungkan hukum dan moral dalam menciptakan perdamaian. Yang menang akhirnya aliran politik realis, yang menempatkan "power" sebagai faktor utama pencipta perdamaian.

Dalam buku Western State Terrorism (ed. Alexander George), dikompilasi data-data dari sejumlah penulis, seperti Chomsky, Edward S.Herman, Richard Falk, dan sebagainya, yang menunjukkan bagaimana Barat, terutama AS dan Inggris, menggunakan isu terorisme sebagai alat politik luar negerinya. William Blum menyebut, kebijakan politik luar negeri AS memang secara klinis dapat dikatakan "gila". Dan, itu diakui oleh para pembuat kebijakan itu sendiri. Blum meletakkan kesimpulannya itu di bawah subjudul "the madman philosophy" (filosofi orang gila). Penulis yang hengkang dari Deplu AS tahun 1967 gara-gara menentang Perang Vietnam ini mengungkap studi internal "US Strategic Command" tentang "Essentials of Post-Cold War Deterrence". Dikatakan bahwa tindakan AS yang kadang kelihatan 'out of control', irasional, dan pendendam, bisa jadi menguntungkan untuk menciptakan rasa takut dan keraguan pada musuh-musuhnya. (William Blum, Rogue State, hlm. 26).

Untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat AS, William Blum mengajukan konsep sederhana. Jika ia menjadi presiden AS, kata Blum, ia akan sanggup menghentikan aksi terorisme terhadap AS hanya dalam beberapa hari. Dan itu bersifat permanen. Caranya:(1) ia akan meminta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS;(2) ia umumkan dengan jiwa yang tulus, ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir, dan umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51;(3) ia akan memotong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90% dari angka 330 miliar USD per tahun.
Itulah yang akan dikerjakan Blum pada tiga hari pertamanya di Gedung Putih. Tetapi kemudian katanya, sebagai konsekuensi dari langkah-langkah itu, maka pada hari keempat saya akan dibunuh. (William Blum, Rogue State, hlm. 24).
Rekayasa informasi global itulah yang sekarang terus berlangsung, melalui media-media massa global. Masyarakat global diberi ketidakberdayaan dalam berbagai hal untuk menghadapi hegemoni informasi. Kepentingan-kepentingan Barat--terutama AS--dapat terwujud. Dalam bidang ekonomi, AS berhasil mengglobalkan berbagai produk industrinya, sehingga menjadi "selera dunia". Terjadilah homogenitas dalam 3F dan 1T: food (makanan), fun (hiburan), dan fashion (mode), dan thought (pikiran). Banyak warga dunia merasa bangga meminum Coca-Cola, makan ayam goreng KFC dan burger McDonald's, menikmati musik AS, dan tidak malu-malu meniru mode pakaian Britney Spears atau Jennifer Lopez yang sangat tidak pantas. Bukan hanya itu, umat manusia juga dipaksa dan diprovokasi supaya berpikir seperti Barat, berpikir sekuler dan liberal, sebagai bagian dari budaya global. Bahkan, kaum muslimin didorong untuk meninggalkan cara berpikir tauhid, yang hanya mengakui Al-Qur'an sebagai kitab suci yang valid dan mukjizat, dan hanya mengakui Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Sedangkan wacana terorismeyang kini berkembang--dengan aktor utama adalah Al-Qaeda-- sebenarnya merupakan wacana yang sudah masuk dalam bingkai kepentingan dan hegemoni wacana. Sebagai penguasa dunia, berbagai kejahatan AS memang tidak dapat dijangkau oleh hukum internasional. William Oltmans, misalnya, mengungkapkan,tahun 1992, Ramsey Clark, Jaksa Agung di masa Lyndon B. Johnson,menerbitkan laporan setebal 325 halaman berjudul 'The Fire this Time'. Di bawah subjudul 'US War Crimes in the Gulf', Clarkmenceritakan, ia sedang berada di Baghdad saat sebuah bom presisi yang dikendalikan laser ditembakkan ke tempat-tempat perlindungan bawah tanah dan membunuh ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Angkatan Udara AS menjatuhkan 88.000 ton bom di Irak pada 1991, jumlah yang setara dengan tujuh kali lipat yang dijatuhkan di Hiroshima. Kejahatan perang AS di Irak itu sebenarnya sangat luar biasa, tetapi media massa di AS melupakannya. Padahal, Pengadilan Kejahatan Perang Amerika (Tribunal for American War Crimes) di New York, yang dihadiri 22 hakim dari 18 negara, menyimpulkan bahwa AS dan para pejabat terasnya dinyatakan bersalah atas ke-19 tuduhan kejahatan. Mereka juga menunjukkan bagaimana Bush senior telah melanggar Piagam PBB dan konstitusi AS. Ironisnya, tidak satu media massa pun berani menerbitkan berita tersebut. William Oltmans, wartawan senior asal Belanda yang kini menetap di New York, menyorot ironi pers di AS itu dengan mencatat: "Itulah keadaannya di negara yang menggembar-gemborkan keberhasilan bahwa mereka telah dapat membangun masyarakat yang bebas dan berdemokrasi." (William Oltmans, Di Balik Keterlibatan CIA, 2001, hlm. 3-5). Kapankah dunia akan mampu keluar dari paradoks global semacam ini?

Sumber: Diringkas dari Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Adian Husaini (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 211-230

Oleh: Abu Annisawww.alislamu.com
Sumber: www.arrahmah.com

Paradoks Wacana "Terorisme" dan "Fundamentalisme"

Tepat dua tahun sesudah peristiwa 11 September, harian terkemuka Timur Tengah, Al-Syarqul Awsath, menulis bahwa bukan saja belum mampu mengatasi aksi terorisme, Amerika Serikat (AS) bahkan banyak menimbulkan masalah baru karena konsep terorisme melebar ke mana-mana. Harian itu mengingatkan agar AS mendengar usul dunia Arab untuk menyepakati terlebih dahulu definisi dan maksud dari terorisme. "Mendefinisikan terorisme merupakan satu cara untuk keluar dari perang jangka panjang yang melelahkan. Kita berharap agar kejadian di Irak menyadarkan kelompok konservatif di Washington," demikian laporan harian terbesar Arab itu.

Sejak AS melancarkan apa yang disebut "perang melawan teror", banyak pemimpin negara berpikir serius tentang hal itu agar jangan sampai tidak mendapat restu dari AS. Maka, demi mempertahankan kekuasaan atau kemaslahatan tertentu, berbagai paradoks akibat konsep "terorisme" terpaksa dibiarkan terjadi. Lihatlah, bagaimana negara Pakistan dapat melakukan tindakan yang kontradiktif terhadap Taliban. Pakistanlah yang mendukung dan turut membesarkan Taliban. Tetapi, mereka juga yang kemudian memburu Taliban, mengikuti jejak AS. Simaklah berbagai paradoks seputar wacana "terorisme" dan "fundamentalisme" berikut ini.

Direktur Institute for Popular Democracy di Filipina, Nakamura, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kehadiran tentara AS di Filipina. Secara resmi, kata Nakamura, kehadiran tentara AS adalah untuk membantu penumpasan teroris Abu Sayyaf. Tetapi, yang ia baca dari satu situs internet, setelah menumpas "gang kriminal" Abu Sayyaf, tentara AS akan diarahkan untuk memberantas "teroris MILF", lalu "teroris MNLF", dan seterusnya. Jika itu yang terjadi, maka yang berlaku adalah perang total, karena MILF dan MNLF merupakan kelompok politik dan militer dengan puluhan ribu pasukan, dan dukungan luas di dunia Islam. (Siaran Radio BBC, Kamis, 31 Januari 2002 pukul 05.000 WIB).

Dunia internasional mengecam sikap AS yang terlalu menyudutkan Palestina dan menganakemaskan Israel. AS menyebut pasukan pengamanan Arafat sebagai "teroris" dan berencana menutup perwakilan Palestina di Washington, DC. "Saya kira diskusi yang menyamakan Arafat dengan teroris ini tidak pantas dan tolol. Ini adalah kebijakan yang berbahaya," kata Menlu Swedia Anna Lindh. Ia menambahkan, "Ini benar-benar tidak waras. Hal ini bertentangan dengan prosesperdamaian menyeluruh ... dan bisa mengarah kepada perang terbuka di Timur Tengah." (Harian Kompas, 29 Januari 2002).

Profesor linguistik di MIT, Noam Chomsky, menulis berita yang menyimpulkan, "Pengeboman atas Afghanistan (oleh pasukan sekutu yang dipimpin AS) adalah kejahatan yang lebih besar daripada teror 11 September." Pendekatan Barat terhadap konflik Afghanistan adalah pendekatan yang didasari pandangan cupet dan sangat berbahaya. "AS adalah terdakwa negara teroris," tegas Chomsky. (Koran Tempo 12November 2001).

Pada 16 Januari 2002, Human Rights Watch yang berkedudukan di New York meluncurkan laporan pelanggaran-pelanggaran HAM sepanjang tahun 2001. Dalam laporannya bertajuk Human Rights Report 2002, organisasi itu menyimpulkan bahwa AS dan pemerintah George Walker Bush sebagai pelanggar HAM terbanyak di dunia. Lembaga ini juga mengecam keras tindakan Bush dan Jaksa Agung AS John Ashcroft, dalam kasus penangkapan lebih dari 1.100 warga Muslim atau Arab yang ditahan dalam upaya investigasimencari pelakuaksi serangan 11 September 2001 ke WTC.

Guru besar Universitas Penslyvania, Edward S. Herman, dalam bukunya The Real Terror Network (1982) mengungkap fakta-fakta keganjilan kebijakan antiterorisme AS. Selama ini AS merupakanpendukung rezim-rezim "teroris" Garcia di Guatemala, Pinoshet di Chili, dan rezim Apartheid di Afrika Selatan. Pada tahun 1970-an AS memasukkan PLO, Red Brigades, Cuba, Lybia sebagai teroris, tetapi rezim Afrika Selatan dan sekutu-sekutu AS di Amerika Latin tidak masuk dalam daftar teroris. Padahal, pada 4 Mei 1978 tentara Afrika Selatan membunuh lebih dari 600 orang warga di kamp pengungsi Kassinga, Namibia. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Tentara Afrika Selatan juga terbukti membunuh ratusan penduduk sipil Angola. Israel, negara sekutu utama AS di Timur Tengah dan tokoh-tokohnya, juga melakukan berbagai aksi terorisme.

Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, dalam tayangan Panorama BBC, 17 Juni 2001, oleh Jaksa PBB Richard Goldstone, dinyatakan harus diadili sebagai penjahat perang, karena terbukti bertanggung jawab atas pembantaian ribuan pengungsi Palestina di Shabra-Satila, 1982. Sejarah pendirian dan perjalanan negara Israel dipenuhi dengan rangkaian teror demi teror terhadap warga Palestina. Dalam sebuah wawancara dengan koran Yediot Aharonot, 26 Mei 1974, Ariel Sharon menyatakan, "Kita harus selalu menyerang, menyerang, tanpa berhenti. Kita harus menyerang mereka di mana pun adanya. Di dalam negeri, di negeri Arab, dan bahkan di seberang lautan sekalipun. Semuanya pasti akan dapat dilakukan." (Roger Geraudy, Israel dan Praktik-Praktik Zionisme [Bandung: Pustaka, 1988], hlm. 148-162).

Pandangan politik seperti Sharon inilah yang didukung penuh oleh pemerintahan AS, bukan saja secara politis, tetapi juga secara keuangan dan militer. Itulah tindakan "Sang Kaisar" di sebuah dunia yang dikatakan sebagai "unbalanced world". Posisi dan tindakan AS itu mengingatkan kisah legenda tentang "Kaisar" dan "Bajak Laut" yang dengan manis dimetaforkan oleh Noam Chomsky. Chomsky menyebut AS dan Israel sebagai "dua negara yang dipimpin oleh dua komandan teroris dunia". "Sang Kaisar" yang mengacau samudera, dengan kapal raksasa, membunuhi jutaan orang dan melakukan kekejaman di mana-mana. Sementara,"Bajak Laut" yang melakukan "kekerasan kecil-kecilan" sudah dicap sebagai "teroris", yang wajib diperangi dan dimusnahkan. Orang-orang yang mau menjadi "hamba Sang Kaisar" juga diberi kedudukan dan anugerah mulia, atau disebut mendapat "carrot". Sebaliknya, orang-orang yang pernah atau punya hubungan dengan "sang bajak laut" diberikan "hukuman" yang disebit "stick". Maka, ketika berpidato di Kongres AS, 20 September 2001, Presiden Bush memberikan ultimatum, "Setiap bangsa di semua kawasan kini harus memutuskan: apakah Anda bersama kami, atau Anda bersama teroris. Sejak hari ini, bangsa mana pun yang masih menampung atau mendukung terorisme akan diperlakukan oleh AS sebagai rezim musuh." (Tentang metafor 'Kaisar' dan 'Bajak Laut' dapat dilihat dalam buku Noam Chomsky, Maling Teriak Maling: Amerika Sang Teroris? [Bandung:Mizan, 2001]).

Dengan posisinya sebagai "Kaisar", maka AS berleluasa menerapkan berbagai kebijakan untuk membuat "hitam" dan "putih" dunia internasional. Pada 31 Januari 2002, koran-koran di Indonesia kembali memuat pernyataan George W. Bush bahwa AS akan terus memburu teroris, dan memperingatkan negara-negara yang masih ragu-ragu untuk memerangi terorisme. "Jika mereka tidak bertindak, Amerika akan bertindak," kata Bush. Dalam perang melawan terorisme, tidak ada wilayah abu-abu (grey area), yang ada adalah "hitam-putih". Mengutip Newsweek, Koran Tempo (31 Januari 2002) memberitakan bahwa Indonesia termasuk yang dinilai tidak bersikap tegas. Sikap Indonesia ini berubah total setelah peristiwa Bom Bali, 12 Oktober 2002. Bush juga menegaskan lagi bahwa Iran, Korea Utara, dan Irak sebagai "Poros Setan".

Mengapa pemerintah Bush kini begitu bersemangat meluaskan perang ke berbagai penjuru dunia, khususnya ke berbagai pihak yang disebut sebagai "Islam militan"? Jawaban atas pernyataan itu dijelaskan oleh Michele Steinberg, yang pada 26 Oktober 2001 menulis analisis berjudul 'Wolfowitz Cabal' is an Enemy Within U.S. di jurnal Executive Intelligence Review.

Tulisan Steinberg itu dimulai dengan cerita tentang keterlibatan Irak dalam serangan 11 September 2001, seperti dimuat dalam harian The Observer, London edisi 14 Oktober 2001. Berita yang diberi judul "Irak Behind U.S. Anthrax Outbreaks" itu ternyata salah total. Berita salah itu mengutip sumbernya dari pernyataan tanpa bukti dari kalangan "American Hawks" (sebutan bagi pejabat-pejabat AS yang bersemangat dalam melancarkan perang) yang menyatakan bahwa "ada banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan Presiden Irak Saddam Hussein dalam peristiwa aksi pembajakan 11 September 2001. Salah seorang "hawk" menyatakan bahwa jika perang melawan teror ini kita harus berperang ratusan tahun lamanya, maka kita akan melakukannya.

Siapakah kelompok maniak perang di AS tersebut? Itulah yang disebut Steinberg sebagai "Wolfowitz cabal" atau komplotan rahasia Wolfowitz (mantan Dubes AS untuk Indonesia yang kini menjabat Deputi Menteri Pertahanan AS). Komplotan rahasia itu menginginkan agar segera dilakukan perang terhadap Irak, menyusul serangan AS ke Afghanistan. Perang itulah yang mereka harapkan akan menyeret AS ke kancah perang global yang mereka inginkan. Steinberg mencatat: "Tetapi, Irak sebenarnya hanya batu lompatan lain guna mendorong 'perang' anti-taroris menjadi ledakan besar 'benturan peradaban' (clash of civilizations), di mana kawasan Islam akan menjadi simbol musuh dalam sebuah Perang Dingin Baru."

Teori "Clash of Civilizations", menurut Steinberg, adalah teori yang dikembangkan oleh Profesor Havard University yang menjadi penasihat keamanan Presiden Carter, yaitu Zbigniew Brzezinsky dan sejumlah anak didiknya, termasuk Samuel P. Huntington. Brzezinsky bermaksud menggunakan "kartu Islam" untuk melawan Unisoviet, dan setelah itu memosisikan Islam fundamentalis untuk berhadapan dengan Islam yang pro-Barat, Islam moderat, dan pemerintahan Arab. Analisis ini juga menyebutkan bahwa komplotan rahasia Wolfowitz yang mempromosikan teori "Clash of Civilizations" juga merupakan musuh dalam selimut bagi AS. Komplotan ini memiliki jaringan di Dephan, Deplu, Gedung Putih, dan Dewan Pertahanan Nasional AS. Mereka mampu membajak kebijakan AS dan dapat menyeret kekacauan di Afghanistan (dan Irak, red.) saat ini ke dalam satu perang global. Menurut Steinberg, "cabal"mampu merancang operasi "negara dalam negara", sebagaimanapernah terjadi dalam kasus"Iran-Contra". Apalagi, "cabal" menempatkan tokoh-tokoh penting dalam jajaran pengambilan kebijakan pertahanan AS, seperti Ketua Badan Kebijakan Pertahanan (Defence Policy Board), Richard Perle.

Meskipun tidak disertai dengan referensi yang mendalam, tetapi analisis Steinberg cukup menarik. Karena, fakta-fakta kemudian banyak yang sejalan dengan analisis tersebut. Analisis ini juga sejalan dengan berbagai analisis tentang kelompok "neo-konservatif" di AS (yang telah dibahas pada bagian sebelumnya). Pengaruh dan cengkeraman kelompok sayapkanan di AS banyak sekali diungkap. Penempatan kelompok "militan Islam" sebagaimusuh utama Barat juga diberikan legitimasi ilmiah oleh Huntington dan Lewis, dengan mengeksploitasi doktrin clash of civilization. Kebijakan ini kemudian dijadikan sebagai konsep global yang harus diterapkan oleh seluruh negara di dunia. Sama halnya ketika dunia harus menjadikan komunisme sebagai musuh bersama. Sebagai contoh, adalah pernyataan berkali-kali tokoh overseas chinese, Lee Kuan Yew, yang menekankan bahwa Indonesia adalah sarang Islam militan. Menurut Lee, seperti dikutip Koran Tempo, 2Juni 2002 dan Media Indonesia, 3 Juni 2002, Muslim militan di Asia Tenggara sedang berkomplot untuk menggulingkan pemerintah; ia juga mendesak AS agar membantu militer Indonesia, karena hanya militer yang dapat menumpas Muslim militan.

Di lapangan, pengertian "teroris", "militan", dan "fundamentalis" tidaklah jelas dan sangat bias, tergantung kepentingan. Jika "militan Islam", fundamentalis Islam" dan "radikal Islam" merupakan musuh Barat yang paling utama saat ini, sehingga dikatakan Fukuyama di majalah Newsweek, Special
Davos Edition, Desember 2001-Februari 2002, mereka harus diperangi, maka tentunya perlu didefinisikan terlebih dahulu, siapakah yang disebut sebagai "militan", "fundamentalis", atau "radikal" itu? Dan, apakah dunia bisa secara fair dan adil menerapkan definisi itu untuk semua jenis manusia, bangsa, dan negara? Lagi-lagi masalahnya adalah soal standar.

Majalah Time edisi 30 September 2002 menurunkan satu tulisan berjudul, "Taking the Hard Road". Tulisan itu dibuka denan kata-kata yang sangat memojokkan posisi Indonesia, "Indonesia menghadapi pilihan sulit: menggulung kaum ekstrimis dan risikonya mendapatkan reaksi keras dari umat Islam atau mengundang kemarahan Amerika". Kata majalah ini pula, "Kegagalan Indonesia dalam bertindak atas Jamaah Islamiyah (JI) atau Ba'asyir, menurut para pejabat AS, dapat mempercepat serangkaian sanksi ekonomi, seperti pembatalan pinjaman dan voting yang menolak bantuan dari IMF."

Terlepas dari berbagai masalah hukum yang kemudian diterapkan kepada Baasyir, bagi kaum Muslimin secara luas, muncul pertanyaan: adilkah perlakuan dunia internasional, khususnya AS terhadap Baasyir dan kawan-kawan, jika dibandingkan dengan perlakuan mereka terhadap Ariel Sharon, misalnya? Tokoh Yahudi "sekuler kanan' dari Partai Likud ini juga sudah sangat tersohor berbagai aktivitas terornya. Track-record Sharon dalam soal pembantaian terhadap warga Palestina sulit dilupakan. Tahun 1953, saat memimpin Unit 101, yang dibentuk untuk melakukan pembasmian di Tepi Barat, Sharon melakukan pembantaian di Desa Kibya dan membunuh 69 warga Palestina--setengahnya wanita dan anak-anak. Yang paling dramatis tentu saja saat menjabat Menhan Israel, tahun 1982, Sharon membiarkan terjadinya pembantaian terhadap ratusan--ada yang menyebut angka 2000-3000 jiwa--pengungsi Palestina oleh pasukan Kristen Phalangis. Sharon hanyalah bagian kecil dari apa yang disebut oleh Roger Garaudy sebagai kebijakan negara Israel yang secara sistematis menerapkan metode "terorisme negara". Namun, kejahatan-kejahatan Sharon dan Israel justru terus dibela oleh AS.

Media massa juga menjadi bagian penting dari penyebaran kerancuan terminologi dan definisi tentang terorisme dalam kaitannya dengan Islam. Sebagai contoh adalah pemberitaan media massa di Indonesia tentang "kelompok Abu Sayyaf". Harian Kompas menggunakan istilah yang beragam untuk Abu Sayyaf. Yaitu: (1) "kaum militan" (seperti ditulis dalam tajuknya, 20 Juni 2002), (2) "kelompok gerilya Muslim" (seperti ditulis dalam berita Kompas, 19Juni 2002, (3) "gerilyawan separatis" (ditulis dalam tajuk Kompas). Harian Media Indonesia, 19 Juni 2002 menggunakan istilah "kelompok pemberontak" untuk Abu Sayyaf. Koran Tempo (19Juni 2002) menggunakan istilah "gang penculik". Sementara, pada edisi esoknya, Koran Tempo tidak menggunakan sebutan apapun, dan hanya menyebut kelompok ini sebagai "kelompok Abu Sayyaf". Adapun Republika, 20 Juni 2002, menggunakan sebutan "kelompok gerilya Abu Sayyaf".

Istilah "militan" dan "gerilya Muslim" yang digunakan Kompas terhadap kelompok Abu Sayyaf, yang telah dicap sebagai "penculik,"perampok", "pemberontak", "separatis", sadar atau tidak berkaitan dengan pembentukan citra Islam. Mengapa? Karena, pada saat yang sama Kompas tidak menyebut "terorisme Yahudi" pada Israel dan "pembantai Kristen" pada tokoh-tokoh Kristen yang terjadi di Serbia,atau Timothy McVeigh yang mengebom gedung WTC di Oklahoma City tahun 1996. Meskipun tercatat sebagai Kristen fundamentalis, apakah Presiden Truman yang mendukung Israel juga dapat dikatakan sebagai teroris?

Dalam Perang Teluk, 1991, Angkatan Udara AS menjatuhkan 88.000 ton bom di Irak, jumlah yang setara dengan tujuh kali lipat yang dijatuhkan di Hiroshima. Media Barat dan koran-koran di Indonesia tidak memberitakan peristiwa Pengadilan Kejahatan Perang Amerika (Tribunal for American War Crimes) di New York, yang dihadiri 22 hakim dari 18 negara bagian. Keputusan pengadilan itu menetapkan: AS dan para pejabat terasnya dinyatakan bersalah atas 19 tuduhan kejahatan perang. (Willem Oltmans, Di Balik Keterlibatan CIA [Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001], hlm. 4).

Dengan keputusan pengadilan itu, mengapa George Bush senior tidak dijuluki oleh media massa sebagai "militan Kristen"? Jika Osama yang dicurigai sebagai otak penghancur gedung WTC sudah dicap sebagai "militan" dan "teroris", begitu juga Abu Sayyaf yang Muslim dicap sebagai "militan", "teroris", dan "gerilya Muslim", mengapa Ariel Sharon yang jelas-jelas bertanggung jawab terhadap pembantaian Shabra-Shatila tidak disebut sebagai "militan dan teroris Yahudi"? Mengapa banyak media massa tidak memberikan sebutan semacam itu?
Pada edisi 20 Juni 2002, Kompas menurunkan berita tentang Israel berjudul, "Israel Kembali Duduki Jenin dan Kalkiliya". Kompas tidak memberikan sebutan apa pun untuk Israel dan Ariel Sharon, misalnya Israel diberi julukan sebagai "negara penjajah Yahudi" atau "teroris Yahudi". Padahal, Israel sendiri tak segan-segan menyebut dirinya sebagai "The Jewish State". Ariel Sharon juga hanya ditulis Kompas sebagai "PM Ariel Sharon" tanpa embel-embel "teroris", "penjagal", "tokoh garis keras", atau "militan" Yahudi.

Kerancuan penggunaan istilah-istilah tersebut juga bisa dilihat sebagaimana yang disebutkan oleh tokoh-tokoh di Indonesia. Dalam disertasinya di Universiti Sains Malaysia (USM) yang diterbitkan Paramadina (1999), dengan judul Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam--Perbandingan Partai Masyumi (Indonesia) dan Parta Jama'at-i-Islami (Pakistan)--Yusril Ihza Mahendra menyimpulkan bahwa Jama'at-i-Islami dan Al-Ikhwan al-Muslimun termasuk kategori kelompok fundamentalis. Sedangkan Masyumi masuk kelompok modernis bersama Liga Muslim Pakistan. Dalam "Catatan Pinggirnya" di majalah Tempo , 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup tulisannya dengan kalimat,"Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan." Lalu, pada pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 21 Oktober 1992, Nurcholish Madjid mengatakan, "Kultus dan fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan narkotika."

Jika digabungkan kesimpulan Yusril Ihza Mahendra, Goenawan Muhammad, dan Nurcholish Madjid, yang sama-sama menggunakan istilah"fundamentalisme", maka bisa ditarik kesimpulan bahwa tokoh-tokoh Islam, seperti Hasanal-Banna, Sayyid Quthub, Yusuf al-Qaradhawi, Abul A'la Maududi, Syaikh Ahmad Yasin, dan sebagainya pantas dicap "sama bahayanya dengan narkotika" dan "menakutkan". Itulah yang dilakukan Israel, dengan membunuh Syaikh Ahmad Yasin. Jika Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki kaitan dengan perjuangan Ikhwanul Muslimin juga dimasukkan dalam kategori "fundamentalisme", maka dengan logika yang sama, Dr. Hidayat Nurwahid yang memimpin MPR juga perlu dimusnahkan, karena dia lebih berbahaya dari narkoba.

Mengaitkan faktor 'kekerasan' dengan 'fundamentalisme agama' juga tidak selalu tepat. Rezim-rezim biadab diberbagai belahan bumi, seperti Rezim Reza Pahlevi, Marcos, Apartheid Afrika Selatan, Augusto Pinochet, dan sebagainya bukanlah pengikut "fundamentalisme". Mereka adalah rezim sekuler. Rezim di Israel yang kejam juga bukan pengikut Yahudi fundamentalis atau Yahudi Ortodoks, melainkan rezim yang lahir dan tumbuh dari kalangan Yahudi sekuler. Presiden George W. Bush yang tega membunuhi anak-anak dan warga sipil Afghan, Irak, Palestina, dan sebagainya juga tidak secara tegas menyatakan diri sebagai fundamentalis Kristen, meskipun pada kenyataannya ia berasal dari kalangan fundamentalis Kristen. Memang, dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, Huntington mengungkap hasil polling di AS, November 1994, yang mengungkapkan, 33% publik AS melihat "Islam fundamentalis" sebagai ancaman. Di kalangan pimpinan AS jumlahnya malah 39%. Dalam polling lain yang melibatkan 35.000 responden yang peduli pada kebijakan politik luar negeri AS, 61% responden menyatakan, "Islamic revival" sebagai ancaman bagi AS. (Huntington, The Clash of Civilizations, hlm. 215).

Di AS, kelompok Kristen fundamentalis diistilahkan sebagai New Christian Right (NCR), juga berpengaruh besar dalam pemerintah AS. Presiden Bush dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kalangan Kristen fundamentalis, seperti Billy Graham, Pat Robertson, Jerry Falwell. Tokoh-tokoh Kristen inilah yang memberikan dukungan kuat kepada Israel. Soal keterkaitan erat Bush dengan kaum fundamentalis Kristen banyak diungkap oleh pengamat politik AS. Dalam bukunya berjudul The Eagle's Shadow: Why America Fascinates and Infuriates the World, Mark Hertsgaard mencatat tentang Bush junior ini: "George W. Bush, yang menyebut Yesus Kristus sebagai filosof favoritnya, adalah seorang Kristen yang "terlahir kembali" yang punya utang politik terhadap kaum Kristen fundamentalis."

Menurut Hertsgaard, sejak awal 2000, kelompok Kristen sayap kanan (Christian right) ini memang telah memilih berdiri di belakang Bush. Presiden AS ini pun kemudian membuat politik balas budi terhadap kelompok yang memiliki basis kuat, terutama di AS bagian Selatan. Di antaranya dengan menggeser tanggung jawab sosial dari pemerintah kepada gereja dan mengangkat hakim serta pejabat-pejabat federal yang bersimpati terhadap kepentingan fundamentalis. Kekuatan Kristen sayap kanan bisa dilihat saat "the two most powerful Republicans" Trent Lott dan Tom Delay berhasil menggerakkan proses impeachment terhadap Clinton dalam kasus skandal seksnya dengan Monica Lewinsky. Di jajaran Republikan, hanya sedikit senator yang dapat terpilih tanpa dukungan kelompok Kristen sayap kanan ini. Memang, dalam soal agama, AS sering bersifat ambigu. Pada satu sisi tetap memegang prinsip sekuler, bahwa negara tidak melakukan campur tangan dalam urusan agama. Tetapi, kata Hertsgaard, "Agama merupakan kunci guna memahami banyak hal tentang AS." Maka, tak heran, jika politisi Demokrat pun sering menampilkan diri sebagai sosok yang religius. Clinton dan Algore, misalnya, juga bangga menyatakan dirinya sebagai "born again" Baptists. Clinton juga melakukan ritualitas Kristen saat melakukan pengakuan dan permohonan maaf kepada rakyat AS atas skandalnya dengan Lewinsky. (Mark Hertsgaard, The Eagle's Shadow: Why America Fascinates and Infuriates the World [Crows Nest: Allen and Undwin, 2002], hlm. 121-123).

Kristen fundamentalis alias Kristen sayap kanan (NCR) mulai dikenal pada akhir 1970-an. Ketika itu masyarakat AS menyaksikan kebangkitan munculnya kelompok ini, yang dalam politik AS dikenal sebagai "gerakan politik keagamaan konservatif (a conservative religio-political movement)". Gerakan yang berakar pada "American evangelical Protestantism" ini bertujuan untuk mendirikan agama Kristen tradisional sebagai kekuatan dominan dalam seluruh aspek sosial kemasyarakatan, termasuk politik. Pesan dari NCR adalah menyerukan kebangkitan agama, regenerasi moral, dan kebangkitan kembali bangsa Amerika. Seorang tokoh NCR, Jerry Falwell, menyatakan bahwa Amerika membutuhkan dampak dari kebangkitan spiritual murni, yang dibimbing oleh pendeta-pendeta yang percaya pada Bible; bahwa 'kanker moral' telah menyebabkan pembusukan masyarakat dari dalam. (Peter Beyer, Religion and Globalization [London: SAGE Publications, 1994], hlm. 114-122).

Karena menyimpan banyak masalah, Mark Jurgensmayer menolak menggunakan istilah "fundamentalis" kepada kaum Muslim yang menginginkan kebangkitan nasional religius. Ia menulis bukunya dengan judul: The New Cold War? Religious Nationalism Confronts the Secular State. Menurutnya, istilah "fundamentalis" bernada peyoratif (penghinaan), yang berkonotasi "intoleran", "merasa benar sendiri", dan "menerapkan pandangan sempit dogma agama secaraliteral". Istilah ini lebih merupakan tuduhan ketimbang bersifat deskriptif. Artinya, lebih mencerminkan sikap terhadap kelompok lain ketimbang menjelaskan siapa mereka. Karena itu, menurut Jurgensmayer, lebih tepat memberi identitas para aktivis yang berorientasi keagamaan secara pribadi dan politik sebagai "nasionalis religius", sebagailawan dari "nasionalis sekuler". (Mark Jurgensmeyer, The New Cold War? hlm. 406). Pada tataran praktis, perbedaan perlakuan terhadap "fundamentalis" Yahudi, Kristen, atau Islam, dalam kamus terorisme internasional saat ini, menunjukkan istilah "terorisme" masih begitu lekat dengan kepentingan politik--baik dalam maupun luar negeri--AS yang kemudian menjadi pangkal berbagai problemapelik internasional.

Problema pelik internasional itu ternyata dalam pandangan Bush bisa menjadi sangat sederhana. Bush membagi dunia menjadi dua: dunia jahat dan dunia baik. Dunia jahat, menurut Bush (red.), adalah musuh AS, dan dunia baik adalah yang mendukungnya. Siapa pun bisa melihat ketidakberesan sikap politik "siapa yang kuat dia yang benar" ini. Penguasa AS yang bersikaplain akan tersingkir atau disingkirkan, seperti yang terjadi pada John F. Kennedy. Dalam bahasa Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, dunia kini kembali ke "zaman batu", karena menempatkan "perang" sebagai jalan menyelesaikan masalah. Hukum dan aturan internasional yang disusun sendiri oleh AS dan sekutu-sekutu pemenang Perang Dunia II kini justru diinjak-injaknya sendiri. Inilah sebenarnya akhir tatanan internasional (pax-Americana). Inilah akhir dari aliran politik idealis yang mengagungkan hukum dan moral dalam menciptakan perdamaian. Yang menang akhirnya aliran politik realis, yang menempatkan "power" sebagai faktor utama pencipta perdamaian.

Dalam buku Western State Terrorism (ed. Alexander George), dikompilasi data-data dari sejumlah penulis, seperti Chomsky, Edward S.Herman, Richard Falk, dan sebagainya, yang menunjukkan bagaimana Barat, terutama AS dan Inggris, menggunakan isu terorisme sebagai alat politik luar negerinya. William Blum menyebut, kebijakan politik luar negeri AS memang secara klinis dapat dikatakan "gila". Dan, itu diakui oleh para pembuat kebijakan itu sendiri. Blum meletakkan kesimpulannya itu di bawah subjudul "the madman philosophy" (filosofi orang gila). Penulis yang hengkang dari Deplu AS tahun 1967 gara-gara menentang Perang Vietnam ini mengungkap studi internal "US Strategic Command" tentang "Essentials of Post-Cold War Deterrence". Dikatakan bahwa tindakan AS yang kadang kelihatan 'out of control', irasional, dan pendendam, bisa jadi menguntungkan untuk menciptakan rasa takut dan keraguan pada musuh-musuhnya. (William Blum, Rogue State, hlm. 26).

Untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi masyarakat AS, William Blum mengajukan konsep sederhana. Jika ia menjadi presiden AS, kata Blum, ia akan sanggup menghentikan aksi terorisme terhadap AS hanya dalam beberapa hari. Dan itu bersifat permanen. Caranya:(1) ia akan meminta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS;(2) ia umumkan dengan jiwa yang tulus, ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir, dan umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51;(3) ia akan memotong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90% dari angka 330 miliar USD per tahun.
Itulah yang akan dikerjakan Blum pada tiga hari pertamanya di Gedung Putih. Tetapi kemudian katanya, sebagai konsekuensi dari langkah-langkah itu, maka pada hari keempat saya akan dibunuh. (William Blum, Rogue State, hlm. 24).
Rekayasa informasi global itulah yang sekarang terus berlangsung, melalui media-media massa global. Masyarakat global diberi ketidakberdayaan dalam berbagai hal untuk menghadapi hegemoni informasi. Kepentingan-kepentingan Barat--terutama AS--dapat terwujud. Dalam bidang ekonomi, AS berhasil mengglobalkan berbagai produk industrinya, sehingga menjadi "selera dunia". Terjadilah homogenitas dalam 3F dan 1T: food (makanan), fun (hiburan), dan fashion (mode), dan thought (pikiran). Banyak warga dunia merasa bangga meminum Coca-Cola, makan ayam goreng KFC dan burger McDonald's, menikmati musik AS, dan tidak malu-malu meniru mode pakaian Britney Spears atau Jennifer Lopez yang sangat tidak pantas. Bukan hanya itu, umat manusia juga dipaksa dan diprovokasi supaya berpikir seperti Barat, berpikir sekuler dan liberal, sebagai bagian dari budaya global. Bahkan, kaum muslimin didorong untuk meninggalkan cara berpikir tauhid, yang hanya mengakui Al-Qur'an sebagai kitab suci yang valid dan mukjizat, dan hanya mengakui Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Sedangkan wacana terorismeyang kini berkembang--dengan aktor utama adalah Al-Qaeda-- sebenarnya merupakan wacana yang sudah masuk dalam bingkai kepentingan dan hegemoni wacana. Sebagai penguasa dunia, berbagai kejahatan AS memang tidak dapat dijangkau oleh hukum internasional. William Oltmans, misalnya, mengungkapkan,tahun 1992, Ramsey Clark, Jaksa Agung di masa Lyndon B. Johnson,menerbitkan laporan setebal 325 halaman berjudul 'The Fire this Time'. Di bawah subjudul 'US War Crimes in the Gulf', Clarkmenceritakan, ia sedang berada di Baghdad saat sebuah bom presisi yang dikendalikan laser ditembakkan ke tempat-tempat perlindungan bawah tanah dan membunuh ratusan orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Angkatan Udara AS menjatuhkan 88.000 ton bom di Irak pada 1991, jumlah yang setara dengan tujuh kali lipat yang dijatuhkan di Hiroshima. Kejahatan perang AS di Irak itu sebenarnya sangat luar biasa, tetapi media massa di AS melupakannya. Padahal, Pengadilan Kejahatan Perang Amerika (Tribunal for American War Crimes) di New York, yang dihadiri 22 hakim dari 18 negara, menyimpulkan bahwa AS dan para pejabat terasnya dinyatakan bersalah atas ke-19 tuduhan kejahatan. Mereka juga menunjukkan bagaimana Bush senior telah melanggar Piagam PBB dan konstitusi AS. Ironisnya, tidak satu media massa pun berani menerbitkan berita tersebut. William Oltmans, wartawan senior asal Belanda yang kini menetap di New York, menyorot ironi pers di AS itu dengan mencatat: "Itulah keadaannya di negara yang menggembar-gemborkan keberhasilan bahwa mereka telah dapat membangun masyarakat yang bebas dan berdemokrasi." (William Oltmans, Di Balik Keterlibatan CIA, 2001, hlm. 3-5). Kapankah dunia akan mampu keluar dari paradoks global semacam ini?

Sumber: Diringkas dari Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Adian Husaini (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 211-230

Oleh: Abu Annisa http://www.alislamu.com/
Sumber: www.arrahmah.com