Selasa, 08 April 2008

FAKTA SEJARAH BAHWA TANDA KENABIAN MUHAMMAD JUSTRU DIAKUI OLEH KALANGAN PENDETA KRISTEN

Masa Kanak-kanak
Pada masa kanak-kanak beliau, diceritakan ketika Muhammad ikut kafilah dagang pamannya Abu Thalib di sepanjang rute Syiria, di suatu tempat bernama Bostra, terdapat sebuah ruang rahib/pendeta yang telah dihuni oleh beberapa generasi pertapa Kristen. Ruan tersebut berisi kitab-kitab suci, tafsir dan ramalan tentang orang-orang suci ini dari penghuni biara itu adalah Bahira. Bahira percaya bahwa saat penghiburan yang diramalkan dalam Injil Santo Yohanes sudah dekat.

Suatu hari, Bahira sedang bermeditasi di Biara itu dan dia melihat debu yang diterbangkan oleh kafilah yang berjalan mendekat. Ketika kafilah makin dekat, dia melihat bahwa sebuah awan terang mengikuti kafilah itu. Dia tidak berpikir apa-apa tentang itu. Debu, panas dan refraksi cahaya bersatu padu untuk menghasilkan pemandangan seperti itu di padang pasir. Hanya ketika kafilah telah berhenti dan mendirikan kemah agak jauh darinya, dia memperhatikan bahwa awan cahaya ini ikut berhenti. Awan tersebut melayang-layang diatas sebuah pohon duri yang cabang-cabangnya menunduk kea rah orang yang sedang duduk di bawahnya. Bahira menjadi tertarik.

Pertapaan itu memiliki banyak simpanan makanan yang selalu diberikan, sebagai hadiah, oleh para jamaah. Bahira memerintahkan agar disiapkan sebuah pesta untuk orang-orang dalam kafilah itu. Kemudian para pedagang Quraisy dari Makkah itu tiba, dan ketika Bahira berdiri untuk menyambut mereka dengan salam tradisional, dia juga memperhatikan dengan cermat wajah setiap tamunya. Tidak ada sesuatu yang aneh. Bahira menyembunyikan kekecewaannya dari tamu-tamunya itu, tapi terus menyelidiki kalau-kalau mereka telah meninggalkan seseorang di belakang. Mereka menjawab bahwa tidak seorang pun yang tertinggal di kemah kecuali seorang anak yang termuda di antara mereka. Ketika mereka berbicara, mereka merasa bersalah karena Muhammad muda tidak ikut dihadirkan sehingga salah satu di antara mereka kembali dan memeluk anak kecil itu dan membawanya untuk bergabung dengan orang-orangnya. Sekilas Bahira mengenali kualitas spiritualitas yang sangat besar dalam diri Muhammad. Sementara mereka makan, Bahira dengan lembut bertanya kepada anak itu tentang keimanannya, kehidupannya, keluarganya, dan ambisinya. Dengan tiap jawaban, Bahira menjadi yakin bahwa anak yatim ini adalah anak yang telah lama ditunggu-tunggu. Ketika Bahira melihat sekilas sebuah tanda aneh di punggung Muhammad, yang ia identifikasi sebagai tanda kenabian yang dulu dimiliki oleh semua Nabi, dia merasa harus segera menyingkap rahasia ini. Sore itu, dia mengajak Abu Thalib menyingkir dan menasehatinya, “Bawalah keponakanmu pulang ke negerinya dan jagalah dia dengan baik-baik dari orang-orang Yahudi, karena demi Allah, jika mereka melihatnya dan menemukan tentang dia apa yang saya ketahui, mereka akan berbuat jahat terhadapnya. Sebuah masa depan yang besar terletak di depan kemenakanmu ini.” Abu Thalib mendengarkan semuanya dan menyimpannya dalam hati.[1]

Dalam buku Karen Armstrong, disebutkan pula cerita yang menyebutkan fakta bahwa Kenabiannya diakui oleh pendeta Nasrani, yaitu cerita yang diawali ketika pamannya Abu Thalib mengajak Muhammad untuk menemaninya dalam sebuah perjalanan dagang ke Syiria. Ketika mereka mencapai Basrah, pendeta setempat Bahira’ keluar dari kediamannya dan mengundang mereka makan. Biasanya Bahira’ mengabaikan rombongan karavan, tetapi tahun ini dia melihat karavan itu dilindungi oleh awan yang cerah, yang menurutnya merupakan tanda hadirnya Nabi yang telah lama ditunggu-tunggu. Karena Muhammad adalah anggota karavan yang termuda, dia ditinggalkan di luar untuk menjaga barang dagangan, sementara orang-orang Quraisy memenuhi undangan Bahira’. Selama jamuan, pendeta mempelajari para saudagar itu dengan seksama namun tak satupun menjawab gambaran tentang sang Nabi yang ditemukannya di buku-bukunya. Apa masih ada orang lain bersama mereka? Orang-orang Quraisy itu tiba-tiba merasa malu karena telah meninggalkan cucu almarhum Abdul Muthalib yang terhormat di luar seperti seorang budak. Maka mereka memanggilnya ke dalam dan pendeta itu mengamatinya dengan lebih seksama. Setelah jamuan, Bahira’ membawa Muhammad ke tepi dan memintanya bersumpah demi al-Lata dan al-Uzza, para dewi rakyatnya. “Jangan suruh aku bersumpah demi al-Lata dan al-Uzza,” Muhammad memprotes, “karena demi Allah, tak ada yang lebih kubenci daripada kedua dewi itu.” Sebaliknya Muhammad bersumpah demi Allah semata dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Bahira’ tentang kehidupannya. Kemudian sang pendeta memeriksa tubuhnya dan menemukan sebuah tanda khusus kenabian di antara tekukan pundaknya. “Bawalah kemenakanmu pulang ke negerimu dan jagalah dia dengan hati-hati terhadap kaum Yahudi,” Bahira’ menasihati Abu Thalib, “karena demi Allah! Jika mereka melihatnya dan tahu tentangnya apa yang kuketahui, mereka akan bertindak jahat padanya, sebuah masa depan yang besar terletak di tangan kemenakanmu ini, maka cepat bawalah dia pulang.”[2]


Masa Wahyu Pertama Turun
Nubuat kenabian pada waktu Muhammad menerima wahyu pertama, ketika berada di Gua Hira yang dikemukakan oleh seorang pendeta Kristen bernama Waraqah bin Naufal. Diceritakan ketika Muhammad menerima wahyu pertama, beliau mengalami schock bahkan sampai minta diselimutkan kepada isterinya. Waraqah bin Naufal lah yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi Allah, setelah mengetahui cerita bagaimana Muhammad menerima wahyu, dan tanda-tanda malaikat yang dilihat oleh Muhammad tersebut. Diceritakan pula dalam buku tersebut bahwa setelah Muhammad pulih, Waraqah bin Naufal menemuinya di Ka’bah dan memperingatkannya tentang apa yang akan segera dia hadapi: “Kau akan dituduh berbohong, kau akan disiksa, dijauhi, diasingkan dan diserang”. Pendeta tersebut kemudian menunduk di depan Nabi dan kemudian mencium keningnya.[3]

Cerita yang sama dapat ditemukan dalam bukunya Haekal, yang menyebutkan tentang Waraqah bin Naufal yaitu seorang penganut agama Nasrani yang sudah mengenal Bible. Khadijah menceritakan pengalaman Nabi Muhammad pada waktu menerima wahyu di Gua Hira. Waraqah diceritakan menekur sebentar, kemudian berkata: “Maha Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah, percayalah dia telah menerima Namus Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya tetap tabah.”[4]

Sesudah itu, pada suatu hari Muhammad pergi ke Ka’bah, di tempat itu Waraqah bin Naufal menjumpainya. Sesudah Muhammad menceritakan keadaannya, Waraqah berkata, “Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Engkau adalah Nabi atas ummat ini. Engkau telah menerima Namus besar seperti yang pernah disampaikan kepada Musa. Pastilah kau akan didustakan orang, akan disiksa, akan diusir dan akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup, pasti aku akan membela yang dipihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula.” Lalu Waraqah mendekatkan kepalanya dan mencium ubun-ubun Muhammad.[5]

[1] Barnaby Rogerson, Biografi Muhammad, Diglossia Media Group, cetakan kelima, 2007, hal 64-66.
[2] Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi, Sebuah Biografi Kritis, Pen. Risalah Gusti, Cet. Ke-2, 2001, hal. 91.
[3] Barnaby Rogerson, hal. 96.
[4] Haekal, Sejarah hidup Muhammad, Pen. Litera Antarnusa, cet. Ke-18, 1995, hal. 83
[5] Ibid.

Tidak ada komentar: